Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

Cerpen "LITTLE PEACE"



LITTLE PEACE
            “Welcome to our home. The hostel girls of heaven.” sambut Ardhea dengan senyumnya yang ku rasa selebar daun kelor  mulai mengembang penuh semangat siang itu. Berada di depan pintu gerbang. Tepat di hadapanku terlihat jelas sebuah gedung mewah dengan dua lantai di atasnya. Terkesan seperti rumah susun bernuansa minimalis. Tepat di samping pintu gerbang bertuliskan “yang buang sampah disini jadi gila. Amin 3000x.”  Sederhana tetapi  yakinlah tidak ada  yang berani membuang sampah sembarangan di sini, hehe....
            Aroma Putu Ayu yang telah nongkrong sejak pukul 12.15 wib semakin menambah kerinduanku pada kota bertagline spirit of java yang di berikan Joko Widodo pada masa beliau menjabat sebagai wali kota Solo.
            Huwwh...desahku sambil melongokkan kepalaku yang kian berat setelah menaiki 210 anak tangga untuk menuju lantai tiga. Kulemparkan tas diatas ranjang, menyandarkan tubuh mungilku di dinding berselimut warna putih tepat berada di samping ranjang. Menatap dinding kuning pada satu sisi di ujung ruangan. Mengingat tragedi beberapa jam yang lalu. Di sekolah.
            “Udahlah Dy, kayak gak kenal Piphin aja. Dia emang gitu. Cuek bebek. ” katanya sambil membereskan baju diatas ranjang  yang bersampingan denganku. Ya, gedung ini terdiri dari tiga lantai. masing-masing lantai terdiri dari tiga kamar  yang di dalamnya terdapat empat tempat tidur tingkat  beserta almari besar dengan dua kubu di samping  tiap tempat tidur.  Terletak disamping pintu masuk, terdapat loker dengan delapan pintu di tubuhnya.
“Menurut lo, gue kurang gimana sampai dia gak ngrespon gue sedikitpun.”
AKu melempar tas tepat diatas ranjang. melepas sragam putih abu-abu yang sedari tadi menempel di tubuhku hingga aku hanya berlapiskan baju tanktop dan celana kick denim, dan sepatu yang sebelumnya telah ku letakkan di loker.
“ya......mana ku tau. Menurut gue nih, nama Piphin juga kagak sesuai dengan tipikal cowok seperti Josephin. Bayangin aja, di film A Crazy Little Thing Called Love yang namanya Pin itu orangnya baik hati, dewasa pula. Gak kayak Josephin.” Aku hanya bergeming sambil memeluk si pillow kesayanganku.  Menyimak Ardhea yang tak henti hentinya berkomentar.
            “Gue punya ide bagus.” Katanya setelah meletakkan tumpukan baju di dalam almari.
            “Apaan ?”
            “Gak usah bawel. Dari pada lo galau, mending lo ikut gue.”
            Sedikit memaksa. Jemarinya menggenggam erat pergelangan tanganku, lantas membawaku ke loteng. Tempat yang menurutku sangat hina. Hanya tersekat oleh sebuah tembok  dan hanya membutuhkan waktu lima detik untuk melewati sepuluh anak tangga.
            Kulihat sekeliling. Lantai penuh debu, pakaian kotor dan ember  pecah berpadu menjadi satu. Menciptakan sebuah harmoni yang bertajuk “Tempat Kumuh.” Bukan karena aku sombong dan alergi kotor, tapi itu fakta.
Berbekal sebuah ember yang berada di satu sisi bersama tumpukan kain yang di dominasi oleh pakaian dalam tak bertuan sejak satu tahun silam.
            “Buat apa kita kesini ? ini cuma buang-buang waktu saja Ar. Lagi pula, aku malu kalau tiba-tiba ada cowok yang lihat kita, pasti nama baik kita bakal tercoreng. Tau sendirikan Ar, tempat ini tu markasnya genk killer, kalo kita ketahuan pasti bakal jadi masalah besar. ”  Rentetan kalimat protes yang tak henti-hentinya ku lontarkan.
            “Nona Mody. Please deh, jangan sebut lo anak Hostel kalo belum menjajal tempat ini.”
            Segila itukah ? The Hostel girls of Heaven adalah tempat bagi  pelajar elit dengan Gedung yang mewah serta fasilitas extra. Meskipun sebenarnya kalimat itu tidak tepat untukku. Karna  aku bukan dari keluarga elit. Semuanya berawal dari sebuah mimpi, secercah harapan serta kesempatan yang di iringi oleh usaha dan kini menjelma menjadi nyata. Membawaku melangkah penuh tekat di tempat ini.  
Aku mengamati kesibukannya yang telah berdiri diatas permukaan ember terbalik.
            “Lo masih gak percaya ? Gue sebagai teman yang baik menyarankan agar lo mengikuti saran gue. Lihat tuh, cowok yang lo taksir waktu kelas satu.”
            Buru-buru aku memposisikan diri di samping Ardhea yang telah standby di atas ember sejak beberapa detik lalu. Berdiri dengan menjinjit untuk melihatnya lebih jelas, karna aku memang teramat lebih pendek dari tembok kusam yang mengelilingi jemuran itu.
Aku terkesima melihat suasana The Hostel Boys of Heaven yang hanya berjarak dua puluh langkah dari Hostel putri. Bergeming mengamati hiruk pikuk hostel putra dengan teropong bumi milik Ardhea. Mengabsen satu persatu cowok yang beberapa diantaranya adalah temanku dan satu di antaranya adalah Phin. 
            “Dia tetap sama. Tetap keliatan cupu dengan kaca mata barunya. Semoga dia mendapat yang terbaik.” Kataku yang hampir tidak berkedip sedetikpun menatap wajahnya yang sedang berdiri di  balkon depan kamar. Bergeming mengamati hilir mudik pengguna jalan. Ku sentuh kedua pipiku dengan mulut yang hampir tak bisa ku tutup.
            “Tuh Dy ada Duta. Dia keliatan tambah ganteng aja.”
            Ardhea menjulurkan tangannya kearah laki-laki itu. Duta, dia adalah kekasih Ardhea setelah beberapa saat ini. Jujur saja, aku memang tak tau jelas tentang seluk beluk hubungan mereka walaupun aku dan Ardhea adalah teman dekat sekalipun. Pantas saja, mereka gak jelas. Hubungan gak jelas, wajah Dutapun kadang aku gak jelas. Buatku.
            “Eh Ar, lyat deh. Cowok yang lagi nyapu halaman itu siapa sih ? kayaknya gue kenal cowok itu.”
            “Oh my God, itukan Piphin Dy. Kog dia, dia jadi tukang kebersihan.”
            Tak ada jawaban. Seluruh pikiranku terfokus pada objek yang ku intip dari lubang teropong. Tangan yang terbungkus sapu tangan hitam itu sedang memindahkan tumpukan sampah ke dalam grobak. Seperti yang ia lakukan pagi tadi. Lantas berlalu dan menghilang dalam hitungan detik.  
            Mataku mulai memanas. Sempat terlintas di benakku tentang laki-laki itu,  tentang jalan hidup yang di pilihkan Tuhan untuknya, tentang rasa lelah yang kini menyatu bersamanya meskipun aku tak mengenalnya lebih jelas.
“ sudahlah Dy. Kalo itu bener Piphin, berarti dia memang cowok mandiri.”
Sementara itu, Ardhea terus saja menyerocos.
“ By the way, Gimana. Lo masih menganggap tempat ini sebagai tempat buat orang kurang kerjaan ?” Ujar Ardhea lagi, memecahkan keheningan yang baru saja menyelimuti seluruh pikiranku, layaknya pemandu suara yang sesekali memandangku dengan tatapan khawatir sekaligus tawa garingnya.
            “Apaan sih lo. tapi tempat ini tetap norak and gak bermanfaat buat seorang pelajar. Tapi gue akui, kali ini lo menang, but this will not apply for tomorrow and beyond. Jangan harap aku mau kesini lagi buat hal yang hanya buang-buang waktu saja.
            Aku memincingkan mataku. Sedikit bergeming dan hanya menyunggingkan ekor bibir beberapa centi saja. Dia tertawa puas seraya mengayunkan tangannya memukul pundakku. Tanpa di sadari tawa itu telah mengganggu masa rehibernasi para tupai Hostel sebelah. Iya, tupai. Karena mereka terlihat seperti tupai tupai dalam pohon untuk menghabiskan waktu istirahat dan tidurnya.
            “Woy, siapa itu.”
Sebuah teriakan lantang yang terdengar keras dari Hostel sebelah.
“Tiarap.” Kataku setelah menyadari keberadaan kami  terendus oleh mereka. Tanpa pikir panjang lebar aku menarik rambut yang tak henti hentinya tertawa ria di depan daun telingaku.  Jongkok di balik punggung tembok.
Prak.... sebuah gayung merah muda dengan ornamen strawberry dan bertuliskan back to nature di sisi depannya melayang dan mendarat tepat di hadapan kami. Kami saling merangkul tanda ekspresi terkejut ala tablo style. Diam beberapa detik, memandang gayung yang telah bertransisi lantas berakhir dengan gelak tawa yang berlangsung hampir bersamaan.
“Elo sih Ar. Bicara aja kayak lagi neriakin maling.”
“Untung kaga kena Dy. Dasar pelempar gayung amatiran.” Dengan congkaknya Ardhea berdiri di sebelahku. Masih di atas singgasan ember.
Brak, wajahku telah tersungkur di lantai berlapis semen, entah semen Gresik atau semen Tiga Roda yang penting semen. Kujulurkan tanganku untuk menahan badan dan dengkul yang telah jatuh lebih awal. Ku lirik Ardhea, ia tampak kesakitan sembari mengusap pantatnya beberapa kali.
“Lo gak papa kan Dy?”
Ia bergegas menghampiriku. Menjulurkan tangannya di atas pundakku. Aku hanya bergeming menundukkan kepala menghadap lantai. Merintih.
“Dy. Lo gak papakan ?” sekali lagi pertanyaan itu ia lemparkan. Pelan aku memalingkan wajah yang di hiasi tampang memelas.  Seperti bayi menangis pada umumnya. Bertahan selama tiga detik. Satu, dua, tiga “very silly face. hahahaha”
Dalam sekejap tawaku membahana melihat kekhawatiran Ardhea yang sama persis ketika ia menahan sakit perut karna diare. Aku menertawakannya.
“Sialan lo. Percuma gua, ngeladenin orang gila.”
Tangan yang sebelumnya menyentuh lembut pundakku kini berakhir pada sebuah dorongan yang hampir membuatku kembali terhempas ke lantai. Dia beranjak meninggalkanku yang masih bertahan dengan tawaku nan panjang.
“Ardhea. Tungguin donk.” Bergegas aku mengikutinya. Mengekor di belakangnya.
Dan dia ! Dia satu satunya orang yang ku kenal dengan baik. Selain Yoona. Karna keduanya adalah dua kutub magnet yang saling berlawanan dan membuat mereka saling melengkapi meski pada kenyataannya saling membenci. Tak satupun orang di dunia ini yang sangat kukenal selain orang itu. Tak ada satupun yang kukenal dengan baik dan mengenalku dengan baik selain dia. Lebih tepatnya mereka. Dari perdebatan yang membuatku memahami arti menghargai. Hening dalam kesendirian, membuatku menyadari arti sebuah kebersamaan. Dan skenario pilu yang mengajariku arti bahagia. Kebahagiaan kecil, bersamamu.

CERPEN "BLACK ANGEL"



 By : intan nur k
BLACK ANGEL
Pukul 06.15.
Deruh kendaraan saling kebut bagai alunan melodi khas daerah padat penduduk yang kini mengiringi perjalananku. Bersama udara pagi yang masih menyisakan butiran embun dan aroma parfum Bubble Gum mulai beradu dengan bau ayam milik pedagang pasar yang berada satu angkot denganku.
            “Pak, kanan.” Teriak seorang laki-laki tua yang duduk di ujung angkot. Sambil memukul atap dengan uang logam di sela jari tangan kanannya. Ia membungkukkan badan sambil berjalan menuju pintu. Tiba-tiba...
 Seeet….Brak. Wajahku yang masih ayu dengan balutan bedak dan foundation sebelumnya harus bertubrukan bahkan tertimpa pantat laki-laki itu.
            “Eh. Maaf neng , ndak sengaja.” Katanya. Aku meresponnya dengan senyum kecut yang sebenarnya hanya sandiwara semata.
            Selang tiga menit, angkot itu berhasil membawaku tepat di depan pintu gerbang. Aku melompat ke luar dari gerbong kereta, lalu menerobos kerumunan orang yang sedari tadi telah berlalu lalang di hadapanku. Sebuah ransel jenis personalized warna biru membelit kedua lenganku dengan rapat.
Segera setelah mencapai teras bangunan, aku menyebrangi jalan raya yang lebar-selalu semerawut dan berdebu. Hardik klakson mengiringi aksi nekat itu, mengantar ke hadapan sebuah bangunan mewah dengan sikap optimis. Di pelataran aspal, tampak sebuah tulisan yang terlihat jelas dari jalan raya. Batik Indonesia High School.
            “Dunia. Semoga hari ini akan menjadi hari yang indah.” 
Aku menarik napas panjang untuk memantapkan hati. Kakiku melangkah dengan cepat dan lebar, melewati empat-lima kotak tegel kotak sekaligus, menimbulkan kegaduhan setiap menapak di permukaan ubin semen yang kelabu dan basah setelah hujan yang mengguyur tadi malam.
            Sesekali kulirik sepatu Wondershoe baru yang ku beli saat berkunjung di Robinet store, satu satunya toko milik Wondershoe yang terletak di daerah Kemanggisan, Jakarta.  Perpaduan antara warna krem dan hitam diujungnya semakin menambah rasa percaya diri.
            Behenti sejenak di tengah halaman. Memandang gedung yang telah berdiri kokoh menopang dua lantai diatasnya.  Warna putih yang melapisi sebagian besar tubuhnya menimbulkan kesan simple ala green building. Dan ada satu hal yang paling menonjol di sekolah ini,
“disini banyak cowok ganteng dan tajir” walaupun sebenarnya bukan itu yang menjadi tipikal utama cowok idaman dalam kamusku.
***
“Lucu.”
Aku tersentak. Dengan mata yang nanar aku mengedarkan pandangan. Mencari sumber suara yang baru saja terdengar tertawa lirih. Atau mungkin hanya sebuah halusinasi saja. Mataku kembali menyipit, menghindari sinar matahari yang mulai mengobral sinarnya.
Aku tersentak. Ternyata suara tadi benar-benar bukan halusinasi semata. Seorang laki-laki asing berdiri tak jauh dariku, menatap dengan senyum yang membuatku tidak nyaman. Di tangan kanannya terdapat sebuah sapu usang. Memakai baju hitam yang mulai pudar.
Aku balas menatapnya, lebih detail. Potongan rambut yang terlihat acak acakan dengan tambahan poni ke samping yang agak panjang-dan menutupi sebagian kecil mata kanannya.  Rambut yang jatuh ke depan itu tak memunculkan aura feminin, malah sebaliknya, sisi maskulin yang tampak menggoda tersirat jelas dari sorot mata.
Ya ampun
Laki-laki itu mirip Piphin. Bedanya adalah dia memiliki tubuh yang lebih kurus dan tinggi. Dengan kulit lebih gelap di bandingkan Piphin. Dan dia tersenyum dengan cara yang terlihat lebih tulus.
Ia mulai gugup, lantas beranjak menarik grobak dengan tumpukan sampah di dalamnya dan pergi. Bergeming untuk beberapa detik.   
            “Mody” terdengar seseorang memanggil namaku. Mody Capricorn. Konon, ibu memberi nama itu untuk menyesuaikan dengan tanggal lahirku 3 Januari sebagai penyandang zodiak Capricorn.
            “Mooooodyy….” Sekali lagi suara itu berdengung keras memenuhi telingaku.
            “Yooooona, aku tidak tuli.”
            “Iyaaa. Aku tauu. Tapi kamu di panggil gak denger-denger” Volumenya semakin mengeras . mengalahkan suara speaker yang di bunyikan oleh guru BP tiap menghukum siswa yang telat.
            “kamu biasa aja deh Yoon.” Kataku sambil mendengus dengan nada bicara yang mulai stabil. Ck
            Kami memasuki gedung sekolah yang mulai menua dan lusuh, menelusuri lobi yang di kanan kirinya  terdapat majalah dinding yang kurang terawat.
            “kamu keliatan cantik kalo lagi marah.” Rayunya dengan wajah sumringah dan tawanya yang mulai menjadi-jadi.  
            “Jadi menurutmu selama ini aku jelek ?”  
            “bukan gitu maksudku.” Ia memanyunkan bibirnya. “ Eh, gimana kabar Ibumu, udah sembuh ? aku kangeeen banget sama kamu Dy. Walaupun  Cuma dua hari kamu gak masuk sekolah, rasanya sudah dua tahun aku gak  ketemu.”  
            “kamu brisik banget sih.” Gertakku lagi. Segera aku menempatkan diri di kursi baris kedua dari depan. Posisi favoritku. Di kelas baru, Buku baru, Beberapa guru dan wajah-wajah baru.
            Hmmm…per  favore. Kini aku tidak lagi disebut “first year student”  karna kini , aku menempati posisi di kelas XI IPA 1. Ajib.
            “Mody. Aku duduk di belakangmu ya. Biar sama seperti waktu kita kelas satu atau waktu kita masih menyandang gelar first year student.” Suara centil itu kembali membanjiri di setiap sudut telingaku.
            Tiba-tiba penyimpanan memori jangka panjang (long term memory) yang terletak di otak sebelah kanan itu kembali menampilkan slide memalukan sepanjang sejarah hidupku yang selama ini telah di simpan di dalam korteks serebral tepatnya di hippocampus . Bernostalgia dengan kenangan satu tahun silam. Tepat saat berada di bangku kelas 10.
            Kejadian itu bermula ketika berlangsungnya English lessons pukul 10.00 WIB. Situasi saat itu sedang lengang karena hampir semua siswa menderita penyakit Narkolepsi yang merupakan penyakit kebalikan dari penyakit Insomnia. Hal ini di karenakan adanya kelainan neourologis ( menyerang otak dan syaraf) kronis yang melibatkan system saraf pusat tubuh serta ditandai dengan rasa kantuk yang berlebihan dan ingin terus tidur dalam jangka waktu sesering mungkin.
Mungkin hanya Yoona yang menderita penyakit insomnia dan tahan banting menghadapi guru bahasa inggris yang tergolong mahluk halus itu. Bayangin aja , dari cara beliau berjalan, berbicara bahkan sampai kulitnyapun serba halus. Sehalus tepung beras.
            “Mody. Di lehermu ada kutunya.” Sambar Yoona yang saat itu memposisiskan diri di belakangku.
            Gemuruh hati yang semakin menggebu-gebu. Di iringi gelak tawa dua puluh empat kepala beserta tangan, kaki dan tubuhnya. Perlahan aku menggulirkan kepala 90ͦ, dengan bola mata sebesar bola basket dan wajah yang kurasa mulai memerah. Aku mengusap leher dan membuang kotoran hitam- yang sebenarnya bukan kutu, lantas  menatap tajam matanya.
Seperti pertempuran batin yang berlangsung sengit , bagaikan bom atom pada perang dunia II atau rudal yang siap memuntahkan pelurunya ke wajah perempuan bermata sipit itu.  Berharap agar angin tornado menerjang dan menerbangkan sebongkah kotoran kebo Bule pada perayaan Suronan  kearahnya.
Butuh waktu lama bagiku untuk melupakan rasa jengkel yang di sebabkan Yoona.  Ya, aku tau itu bukan cara yang baik untuk memulai semester. Bahkan, aku tidak habis pikir kenapa ia tidak pernah bosan mengganggu hidupku. Mencampuri segala hal tentangku bahkan yang sekecil partikel atom sekalipun.
“Yoona. Diem.” Kataku sambil memukul meja kayu di hadapannya seraya berharap ia segera menyadari kesalahannya. Tapi tidak, ia hanya menyunggingkan bibirnya beberapa centimeter saja. Sial.
Aku merunduk malas karena capai setelah perjalanan panjang dari kampung halaman. Kepalaku nyaris menyentuh permukaan meja, memperhatikan coretan tinta yang di torehkan perlahan-lahan oleh jari-jari pada white board. Guru di depan kelas mengoceh tanpa henti sejak  tadi.
Kuarahkan pandanganku keluar ruangan. Lewat pintu kiri terlihat pucuk pohon mangga yang sangat kuhapal karena buah mangga yang kulirik sejak ia masih bayi kemudian menjadi remaja dan kini telah dewasa. Warna orange yang melapisi ujungnya membuatku tertarik untuk menikmati setiap butir rasa manis dan asam yang beradu dalam satu.
“Hallo. Mody. Kamu dengar tidak dari tadi saya ngomong apa ! ” suara itu membuyarkan lamunanku sejak setengah jam yang lalu.
“Maaf bu.” Kataku dengan senyum yang penuh keterpaksaan.
“jangan di ulangi lagi. Anak-anak,sekarang buka bab pertama LKS kalian. Dengan tanpa suara dan aku pastikan anak yang membuat brisik dia akan mendapatkan skors sebelum dia menutup mulutnya, paham ? ”
Bu Ratih,guru tergalak dan yang paling murah dengan senyum sinisnya. Dengan panjang lebar ia menjelaskan tentang seluk beluk penokohan, lattar, setting dan plot yang kurasa setiap tahun hanya itu yang menjadi booming dalam pembahasan. Suara yang merdu alias merusak dunia bagaikan melodi bernuansa rock  yang sebenarnya tidak begitu bisa ku mengerti. Atau seperti kicauan seribu burung yang di tangkar dalam satu tempat.
Menghembuskan napas panjang dan semangat.
***
Tet …tet…
Terdengar suara bel yang menunjukkan waktu istirahat telah tiba.
“oke, kuliah hari ini sampai di sini saja.” Tidak lama kemudian Bu Ratih mengakhiri racauannya. Kugulingkan pandanganku ke belakang. Tepat di meja Yoona. Tampak jelas bahwa ia telah tertidur pulas di balik lembaran-lembaran buku paket bahasa indonesia dengan pipi yang beralaskan telapak tangan.
Menyedihkan, memang. Terkadang, aku berduka ketika mengingat bahwa siswa yang sedang belajar bersifat pasif , menerima apa saja yang diberikan guru, menambah pengetahuan dengan menggunakan otak kiri yang cenderung tidak permanen dan membosankan, menghadiri, mendengar dan mencatat penjelasan guru, serta menjawab secara tertulis soal-soal yang diberikan saat berlangsungnya ujian. tanpa diberikan kesempatan untuk membangun diri sendiri dengan pengetahuan yang dibutuhkan dan diminatinya. Sebagian besar.
Seperti pisau bermata dua, bagi orang tertentu metode itu berhasil, tapi bagi orang tertentu lainnya, itu adalah pembunuh masa depan.  
“Yoona, bangun.” Kataku dengan sedikit menggoyangkan lengannya.
“Loh. Gurunya mana ?” Ia terlihat kebingungan. Perlahan ia mengusap tepi hidungnya, mengedarkan pandangan dan sesekali membereskan rambut yang tergerai tak beraturan.
“Ini udah istirahat. Makannya jangan tidur mulu. Inget tugasmu sebagai pelajar.” Kataku sambil beranjak meninggalkannya di tempat semula. Berjalan menuju balkon.
“Siapa yang mau mangga ?” triakku dengan harapan semua orang akan merespon.
“Mana mangganya ? gue minta dong Dy.” Jawaban yang dilontarkan oleh sebagian besar penghuni kelas. Seperti gula diantara seribu koloni semut.
“Gini. Kita bagi tugas. Kamu, kalian berdua dihalaman sana. Dan kalian, lepas semua sepatu kalian.” Jelasku memberi intruksi. Pasukan kuambil alih. Semua telah menempatkan diri di posisi masing-masing. Dari depan kelasku yang bertepatan di lantai dua, tempat yang paling strategis dan yang paling dekat dengan sasaran.
“Lempar….Lempar… Yang di bawah, jangan lupa sepatunya dikumpulin.”
“Mody. Nglemparnya yang bener dong byar mangganya cepet jatuh.”
“Plak…” suara sepatu milikku yang jatuh tepat di punggung salah seorang primadona dimataku.
“Aduh, mampus nih. Eh, semuanya sembunyi.orang ganteng mau marah.” Dengan mata yang sedikit mengintip dan badan yang ku sembunyikan di punggung balkon, aku menatapnya. Lama.
Terlihat jelas wajah yang mulai merah merona menatap di setiap sisi dan berharap menemukan tersangka pelempar sepatu (aku). Beberapa detik kemudian, ia mulai berjalan meninggalkan halaman bersama sepatu di tangan kanannya.
oh, tak henti hentinya aku terpesona oleh wajah tampan itu. Senyumnya cukup manis dan amat cukup untuk bisa mengganjal mata ini agar tidak berkedip sedetikpun. Dia Josephin. Dengan bunyi “e” seperti kata tempe, bukan “e” pada kata seni. Tapi aku biasa memanggilnya Piphin. Nama yang sebenarnya terinspirasi yang kemudian teradaptasi lalu menjadi terasi, eh salah maksudnya termodivikasi dari salah satu pemain dalam film A Crazy Little things called love yang telah kutonton sebanyak tiga kali tanpa ada kata “boring”, dan ini kupersembahkan sebagai tanda bahwa dia termasuk daftar orang spesial di hidupku.
***


Di sekolah kami, kantin Moro Marem adalah tempat nongkrong dan makan paling asyik.
Serius. Kantin ini tidak pernah sepi dari obrolan, derai tawa, dan alunan musik yang bermacam-macam. Tergantung siapa yang sedang menguasai radio pada jam istirahat.
Di sebuah halaman terbuka, di sisi taman belakang yang di penuhi oleh rimbunan pohon kantil dan meja-meja kayu dengan payung yang merekah di atasnya. Pas untuk porsi empat orang.
“Mody. Nih aku bawain White Coffee. Enak kog, tidak bikin kembung.” Ujar Yoona yang tiba-tiba muncul dihadapanku. Kalau kataku dia adalah penjelmaan jelangkung, datang tak di jemput, pulang tak di antar. Atau lebih parah dari itu, datang tiba-tiba, pergi tiba-tiba.
“Tumben kamu baik. Abis kejatuhan meteor ya?”
“Lucu banget kamu Dy.kan udah dua hari kita gak ketemu, jadi ini adalah tanda “welcome” untuk kedatanganmu di sekolah. kan kita FRIEND.”  Dia menedipkan sebelah matanya.
“Apa ? friend ? maaf ya Yoon, aku tidak suka dengan sikapmu yang suka ceplas ceplos and egoismu itu. Terus, makasih buat coffenya, walaupun sebenarnya aku gak suka coffee beserta keturunan dan saudara-saudaranya.”
Sembari menikmati setiap tegukan kopi hangat dan semilir angin yang berhembus siang itu, terselimuti awan hitam dengan meninggalkan bintik-bintik air. Aku terhanyut ke dalam fatamorgana yang menampilkan wajah Piphin yang terus menerus memenuhi otakku.
Ditemani kicauan Yoona yang tak henti hentinya menceritakan keluh kesahnya pada liburan kemarin. Layaknya dongeng sebelum tidur, tapi gak nyambung. Bagaimana tidak, dia selalu membahas artis-artis korea yang menurutku semuanya berwajah kembar. Dan paling banter aku hanya akan menanggapinya “owh, aku gak tau.” Jika tidak, ia hanya akan membahas persengketan lahan ataupun tingkat UMR (Upah Minimum Regional) beberapa daerah di Jawa Tengah.
“Eh, Mody. Ada Piphin tuh. Kayaknya mau kesini.” Kugulingkan wajahku kesamping. Sontak, aku menyemburkan kopi yang memenuhi mulutku di baju Yoona. Tanpa menggubris ekspresi atau rasa jengkel dari wajahnya, dengan sigap aku berdiri dan memberikan sebungkus tisu di pangkuan Yoona.
Tampak jelas laki-laki itu berjalan kearahku dengan membawa sepatu di tangan kanannya. Bersama rasa gugup yang mulai membahana dan degup jantung yang mulai liar, aku mengatur napas.
“Dy, kamu tau ini sepatu siapa ?”
“Emmm…kayaknya aku gak tau.”
“Loh, itukan sepatu barumu Dy, yang kamu beli waktu liburan  kemaren. Kog dia sih yang bawa ?” sahut Yoona dengan suara lantang penuh dosa. Aku hanya terdiam, mengeluarkan jurus Tampang Blo-on (TaBlo).
Tatapan curiga mulai mengarah ke kakiku.
“Maaf. Aku tadi tidak sengaja waktu mau ngambil mangga.” Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Kulihat Piphin mencari-cari keberadaan mangga yang ku maksud.
“Kalau tidak keberatan, aku akan mencucikan bajumu dan ku kembalikan besok. Sebagai permohonan maafku. ”
“Gak usah. Nih sepatumu.” Katanya datar.
Tidak seperti yang kuharapkan, dia langsung pergi kedalam kelas. Walaupun kita memang satu kelas, tapi dia tetap kaku terhadapku. Tak terasa mata ini panas. Dan dia menghilang.
“kamu udah gila ya Yoon. Udah puas permaluin aku kayak gitu ?sekarang dia semakin benci sama aku. ”
“Lho, kog aku ? emang benerkan itu sepatumu.”
Segera aku beranjak meninggalkan Yoona dengan kumpulan kalimat protesnya. Damn.
***
“Woy.”
Ini bukan suara Yoona. dengan mata kembali menyipit menghindari terpaan sinar matahari yang mulai menerobos diantara celah-celah awan hitam. Aku berjalan mengedarkan pandangan. Mencari sumber suara yang baru saja terdengar menyapa hangat.
“kenapa lo ?” aku tersentak. Ternyata suara tadi benar-benar bukan Yoona. Duduk-tak jauh dariku. Ardhea. Dia adalah sahabatku sejak satu tahun lalu, walaupun sekarang kita berada di kelas yang berbeda.
Aku menatapnya lebih detail. Rambut pendeknya terlihat stylish  dengan tambahan poni ke samping yang agak panjang. Dengan tato semi permanen yang terukir di atas lengan tangan kanannya.
“No thing. Biasa Yoona membuat ulah lagi.”
“Pasti ada hubungannya dengan Phin kan ?.” Tak ada jawaban.
“Balik yuk. Jam kosong nih.” Lanjutnya dan  berakhir pada sebuah jalan setapak.
Satu hal, Naik turunnya hidup membuatku sadar bahwa hakekatnya kita semua sama, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal ini membuatku menyadari bahwa di dunia ini tak ada orang buruk, adanya orang yang tersesat dalam keburukan. Semuanya tergantung pada bagaimana kita menyikapi sikap itu.
Seperti halnya malaikat dan setan, dua elemen yang berbeda namun tak dapat di pisahkan. Istilah Black Angel memang tepat untuk sosok Yoona. menjengkelkan tapi di balik sikap hitam itu terdapat malaikat kecil dengan hati polosnya. Manusia memang terkadang baik kadang pula kurang baik asal jangan kurang ajar !