Selasa, 11 Juni 2013

saksi bisu



SAKSI BISU

            Disini dan sendiri, inilah aku. Kesepianpun datang menghampiriku. Membawa sejuta berita bahwa aku memang sendiri. Tapi tidak. Laki-laki itu datang menghampiriku. Mengubah duniaku yang selama ini hambar menjadi lebih berbinar.
            Perlahan dia mendekatiku. Menyusuri setiap lorong rumah kos. Menjamah setiap tangga untuk menuju lantai 3. Tempat aku dan Tomi dipertemukan. Hingga dia menyentuhku bersama tangannya yang masih terlihat kokoh, dilapisi kulit dengan warna putih langsat. Dipadu dengan baju putih dan celana pensil yang sedang ngetrend akhir-akhir ini.
            Entah karena alasan apa dia datang ke kos lebih awal dari biasanya. Karena aku ? Itu sungguh mustahil. Walaupun aku yang sesungguhnya lebih setia menunggunya disini. Berdiri kokoh tanpa suara. Diam seribu bahasa. dulu, kini bahkan selamanya. Aku akan tetap disini.
            Kali ini kau datang dengan wajah sumringah. Namun kau terlihat letih hingga kau meninggalkanku tanpa pesan dan tanpa suara. Tiga jam sudah aku menunggumu terbangun dari tidur panjang, tersadar dari mimpi indahmu.
            Kau berfikir sejenak dan sesekali memfokuskan pandanganmu lurus dipojok bawah sana. Tepat didepan pintu kos putri yang letaknya hanya 50 langkah dari tempat Tomi berdiri saat ini. Disitulah kau beranangan-angan dengan harapan seorang gadis mungil tersenyum kecil untukmu. Dan dia datang. Samar-samar aku melihat gadis itu. Seperti yang kau harapkan, dia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya.
            “Tomi....” Suara gadis itu memanggilmu. Gadis yang telah lima menit lalu berdiri dipojok sana. Dan wajahmu terlihat 1000 kali lebih bahagia dari biasanya.
            “Niki...Imiss you” Jawabmu dengan suara lantang.
            Apakah ini yang manusia sebut sebagai CINTA ? Entahlah, jujur saja aku cemburu dengan semua ini. Karena aku yang lebih lama disini. Aku lebih lama bersamamu. Sangat lama. Berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan selamanya.
            Sering aku harus bertahan ditengah hantaman badai yang menderam. Disela derasnya hujan yang mendendam dan diantara terik matahari yang membakar. Karena aku harus melindungimu,memberikan sebuah kehangatan untukmu. Bahkan saat kau bertatap muka bersama Niki. Seorang gadis yang telah kau pilih untuk mengisi kekosongan hatimu. Meskipun hampir tiga tahun sudah kau satu kelas dengannya. Hingga detik ini, di ruang 12 IPA 1 SMA 8 Surakarta. Namun kau harus tahu, akulah yang lebih dulu mengenalmu. Mengenal Tomi El-Fathan.
            Dengan jelas aku melihatmu saling tatap muka bersamanya. Walaupun kalian bungkam, tapi aku tahu jelas bahwa  hati kalian saling bercakap. Tiba-tiba, kau menggerakkan jemarimu dengan perlahan. Isyarat singkat yang bermakna “I LOVE YOU”. Gadis itu kembali tertawa lebar.
            “Aku menunggumu di pohon cinta.” Teriak Niki mengajak. Sontak Tomipun salting mendengar ungkapan itu. Dan menjawabnya dengan anggukan kepala. Tanpa pikir panjang, Tomi dan Niki segera mengakhiri pertemuan itu dengan lambaian tangan yang kemudian brlalu begitu saja.
            Andai aku adalah Niki, mungkin aku adalah orang paling beruntung di kos ini, dinegara ini  atau bahkan di planet ini. Tapi sayangnya tidak. Untuk merasakan cintapun aku tak mampu. Apalagi memilikimu. Memiliki ketulusan hatimu.
            Dengan perlahan, Tomi dan Niki menginjakkan kakinya di atas permukaan bumi. Kurang dari 30 menit, mereka bertemu disebuah pohon besar dipinggir trotoar. Ditempat itulah mereka saling bercakap dan merajut sejuta kenangan indah yang akan mereka simpan selamanya.
            Demi mengobati rasa rindu yang telah lama Niki pendam, ia menyandarkan kepalanya diatas pundak Tomi yang masih kokoh itu. Dilihatnya ratusan mobil yang sedari tadi berlalu lalang dihadapannya
“Rasanya sudah berabad-abad aku gak ketemu kamu Tom !” Kata niki manja.
“Aku merasakan hal yang sama. Andai waktu berhenti saat ini dan selamanya Nik. Aku akan merasa sangat bahagia karena aku akan berada disampingmu selamanya.” Rayu Tomi. Niki hanya membalas ucapan itu dengan sebuah senyuman kecil sambil melirik wajah kekasihnya yang eksotik itu.
Nyaman dan tenang. Itulah keadaan yang sedang mereka berdua rasakan. Suasana hening sejenak. Hingga Tomi memulai percakapan hari itu dengan ribuah rayuan gombal. Karena ia hanya ingin melihat Niki kembali tersenyum.
“Nik, kamu tau gak, kemaren tuh aku ngitung bintang ternyata jumlahnya 1000. Tapi semalem bintangnya tinggal 999.”
“Trus yang satu kemana ?” Tanya Niki penasaran.
“Nih, yang satu lagi dideketku.”
“Ih....kamu tuh pinter banget kalau di suruh gombal.”
“Biarin wek. Yang penting, sekarang kamu dah tersenyum. Aku seneng liat kamu senyum and ketawa Nik.” Ucap Tomi seraya menatap tajam setiap garis diwajah Niki. Huh.....Dasar cowok, tak pernah luput dari kata-kata gombal yang tak terjamin kebenarannya.
Detik berganti detik, jam berganti jam. Itulah selayaknya waktu berjalan. Hari ini, keadaan sudah mulai ramai. Penghuni kos mulai beraktifitas seperti biasa. Seperti keadaan 2 minggu yang lalu. Tepat sebelum liburan.
Jarum jam menunjukkan angka 15.30. seperti biasa, aku melihat kedua insan yang sedang dirundung cinta itu saling bertatap seusai pulang dari sekolah. Lalu melambaikan tangan dan keduanya berlalu begitu saja.
Namu sore ini sangat berbeda. Niki tidak melakukan rutinitas yang biasa ia lakukan setiap sore. Mendadak ia memalingkan mukanya dan memiringkan bibirnya dari pandangan Tomi yang sejak dua menit yang lalu menunggunya didepan pintu. Sontak, Tomipun kaget bercampur khawatir tentang keadaan Niki saat ini.
15 menit telah berlalu. Namun Tomi masih menunggunya tepat didepanku. Tanpa sengaja aku melihat Niki mengintip dibalik kaca jendela. Dia menitihkan air mata seraya mengingat tragedi siang tadi di sekolah. Sementara Tomi, dia hanya termenung dengan wajah pucat. Dan keduanya berlalu dengan sebuah tangisan.
“Ada masalah ?” Suara Danu memecah lamunan Tomi. Mereka adalah sahabat. Sangat dekat.
“Niki. Dia terlihat berbeda hari ini. Garis wajagnya mengusut dan sesekali dia memalingkan wajahnya dari pandanganku.entah karena alasan apa dia berubah. Yang aku, aku ingin dia tetep tersenyum Dan.” Jawab Tomi menjelaskan.
Tomi tampak lesu hari ini. Andai aku bisa bicara, aku akan menghiburnya. Dan andai saja aku bisa bergerak, aku akan menghapus air mata yang sudah beranak sungai dipipinya.. dia tampak sedang ada masalah dengan Niki. Walau akupun juga tak mengerti alasan apa yang membuat Niki seperti itu. Tomi dan Danu masih betah bercakap di depanku. Bahkan Tomi menyandarkan kepalanya tepat di tubuhku. Manusia yang malang.
Pukul 23.30. Tomi berniat menuruti kehendak matanya untuk terpejam, hati laki-laki itu seakan brontak. Setiap kali ia mencoba membuka mata, bayangan tentang Niki terus terngiang. Ia menghela napas panjang. Hingga kejadian 10 jam yang lalu lambat laun mulai teringat. Kejadian ketika ia berniat menyampaikan pesan temannya kepada April. Salah satu temn dekat Niki. Maklum saja, sebelumnya Tomi tak memberitahu tentang ini kepada Niki. Bahkan, pertemuan itu terlihat cukup romantis. Bagaimana Niki tidak cemburu, melihat kekasihnya bersama teman deatnya sendiri. Dan itu tepat dihadapannya. Kejadian itu sontak membuat Niki ketakutan dan mulai menitihkan air mata. Sejak saat itulah Niki menunjukkan sikap anehnya.
“mungkin itu yang membuat Niki marah. Besok aku harus ngomong ke Niki.” Batinnya yang telah menemukan jalan keluar. Bersama jarum jam yang terus berputar, Tomipun mulai terlelap dalam dekapan sang malam.
Srakk... Suara Danu menarik korden jendela.. mentaripun menembus celah kamar dan seolah mengobral murah sinarnya pada seluruh mahluk yang ada disana.
Tomi segera terbangun dari malam harunya.
“Tom, cepet bangun and berangkat. Trus temui Niki.” Teriak Danu dari pintu kamar mandi. Tmipun sesegera mungkin bersiap-siap dan berlalu dalam hitungan detik.
Hampir satu setengah jam Tomi duduk didalam kelas. Termenung begitu lama. Menunggu seorang gadis muncul dari balik pintu kelas. Sembari ia menyusun kata-kata manis yang akan ia lontarkan kepada Niki.
Dan saat itu tiba.
“Nik.....” sapa Tomi dengan wajah melas.
“Apa sih ?”Jawab Niki dengan senyu kecilnya.Nampaknya ia sudah melupakan kejadian kemarin.
“Kamu kenapa ? Jangan cemburu. Aku Cuma nyampein pesen dari Danu buat April.”kata Tomi menjelaskan.
Bagaimana Tomi bisa tau kalau aku cemburu ? Akukan gak bilang apa-apa ke dia. Tapi syukurlah, dia bisa mengerti perasaanku sebelum aku mengungkapkan itu. Batin Niki yang penuh dengan pertanyaan.
“Nik... percayalah.” Nikipun tersenyum lebar menatap mata Tomi yang hanya hanya 5 cm dari wajahnya.
“Biarin. Kamu nyebelin.” Celetuk Niki manja. Dan keduanya saling tertawa panjang.
“Nik, kalau kamu beneran sayang sama aku, aku pengen kamu buktiin” Ujar Tomi dengan suara yang mulai lirih.
“Apa ?”
Aku pengen sehari besok kita gak ketemu dan kita gak saling menatap. Berani gak ?”   
“Siapa takut !” jawab Niki semangat.
“Dan satu lagi, surat ini hanya boleh kamu buka jika kamu sudah melewati satu hari itu. Pokoknya kamu gak boleh melanggar perjanjian ini kalau kamu bener suka sama aku.” Kata danu sambil menyerahka amplop merah muda yang ia tulis semalam suntuk.
...
Tak terasa satu hari telah Niki lalui tanpa bertemu dan tanpa bertatap muka dengan Tomi. Bahkan Niki telah bosan menatap 3 buah jarum jam yang terus berputar pada porosnya. Tiba- tiba Niki teringat pada surat yang di berikan Tomi satu hari yang lalu. Tanpa pikir panjang ia segera mebaca surat yang masih tersimpan rapi dalam lemarinya.
“Dear Niki
Kamu berhasil Nik. Kamu hebat. Dan aku pengen kamu kamu lakuin itu setiap hari. Sebelumnya Aku minta maaf Nik, aku dan keluargaku akan pindah rumah di Lampung. Di tempat kelahiran ayahku. Aku tak pernah punya maksud untuk meninggalkanmu atau menipumu, karena aku akan jadi Matahari untuk bintang kecilku ini, meski terhalang oleh awan, tapi dia tak akan pernah pergi dan akan setia menunggu dan menyinari bintang itu, yaitu kamu. Dan aku mau kamu tetap tersenyum, seperti bintang yang tak pernah redup. Cuma itu adalah syarat terakhirku. Niki, i’m so sorry that i hurt you but i love you.
Salam manis,
Tomi El-Fathan ”
Surat itu membuat dada Niki semakin sesak. Bagai pisau belati yang tertancap di ulu hati. Sakit. Perih.
 Tepat pukul 15.30. Seperti biasa. dari kejauhan, aku melihat sosok laki-laki yang tak asing lagi di mataku. Dia Tomi. Secepat kilat dia berlari menembus setiap teras kamar,menyusuri puluhan anak tangga bahkan menerjang pagar besi yang telah lama berdiri disitu.
Dengan sigap, Tomi menatap lurus kebawah, berharap seseorang yang ia nanti segera muncul dari balik pintu. Aku melihat gadis itu telah berdiri tegak sambil mencondongkan wajahnya kearahku. Tepatnya kearah kamar Tomi. Wanita dan laki-laki itu tampak pucat, dan keduanya saling tertegun. .  Tiba-tiba......
Bress.....Hujan turun dengan begitu derasnya. Menjatuhkan ratusan debit air tanpa jeda. Tapi tidak, hujan tidak akan memisahkan mereka. Ketika bibir mulai mengeras, kerongkongan mulai mengering dan kata tak mampu lagi terucap, kini hanya air yang lambat laun beranak sungai dipipi. Mereka menangis mengadu hati mengenaskan. Bersama ransel hitam yang sedari tadi ia pegang, Tomi mulai beranjak pergi meninggalkan siluet yang masih terlihat jelas di benak Niki. Dia mulai menghilang. Jauh. Sunyi. .
 Betapa beratnya Niki melepas kepergian Tomi. Sebuah cinta yang kuharap akan selamanya. Walaupun akulah yang lebih setia menunggumu disini. Menyimpan sejuta kenangan indahmu bersama Niki. Meskipun aku tau kau tak akan pernah menganggapku saksimu atau bahkan sekedar mengingatku. Karna aku hanyalah sebuah PINTU.
saksi bisu 
...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar