SAKSI BISU
Disini dan
sendiri, inilah aku. Kesepianpun datang menghampiriku. Membawa sejuta berita
bahwa aku memang sendiri. Tapi tidak. Laki-laki itu datang menghampiriku.
Mengubah duniaku yang selama ini hambar menjadi lebih berbinar.
Perlahan
dia mendekatiku. Menyusuri setiap lorong rumah kos. Menjamah setiap tangga
untuk menuju lantai 3. Tempat aku dan Tomi dipertemukan. Hingga dia menyentuhku
bersama tangannya yang masih terlihat kokoh, dilapisi kulit dengan warna putih
langsat. Dipadu dengan baju putih dan celana pensil yang sedang ngetrend
akhir-akhir ini.
Entah
karena alasan apa dia datang ke kos lebih awal dari biasanya. Karena aku ? Itu
sungguh mustahil. Walaupun aku yang sesungguhnya lebih setia menunggunya
disini. Berdiri kokoh tanpa suara. Diam seribu bahasa. dulu, kini bahkan
selamanya. Aku akan tetap disini.
Kali ini
kau datang dengan wajah sumringah. Namun kau terlihat letih hingga kau
meninggalkanku tanpa pesan dan tanpa suara. Tiga jam sudah aku menunggumu
terbangun dari tidur panjang, tersadar dari mimpi indahmu.
Kau
berfikir sejenak dan sesekali memfokuskan pandanganmu lurus dipojok bawah sana.
Tepat didepan pintu kos putri yang letaknya hanya 50 langkah dari tempat Tomi
berdiri saat ini. Disitulah kau beranangan-angan dengan harapan seorang gadis
mungil tersenyum kecil untukmu. Dan dia datang. Samar-samar aku melihat gadis
itu. Seperti yang kau harapkan, dia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya.
“Tomi....”
Suara gadis itu memanggilmu. Gadis yang telah lima menit lalu berdiri dipojok
sana. Dan wajahmu terlihat 1000 kali lebih bahagia dari biasanya.
“Niki...Imiss
you” Jawabmu dengan suara lantang.
Apakah ini
yang manusia sebut sebagai CINTA ? Entahlah, jujur saja aku cemburu dengan
semua ini. Karena aku yang lebih lama disini. Aku lebih lama bersamamu. Sangat
lama. Berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan selamanya.
Sering aku
harus bertahan ditengah hantaman badai yang menderam. Disela derasnya hujan
yang mendendam dan diantara terik matahari yang membakar. Karena aku harus
melindungimu,memberikan sebuah kehangatan untukmu. Bahkan saat kau bertatap
muka bersama Niki. Seorang gadis yang telah kau pilih untuk mengisi kekosongan
hatimu. Meskipun hampir tiga tahun sudah kau satu kelas dengannya. Hingga detik
ini, di ruang 12 IPA 1 SMA 8 Surakarta. Namun kau harus tahu, akulah yang lebih
dulu mengenalmu. Mengenal Tomi El-Fathan.
Dengan
jelas aku melihatmu saling tatap muka bersamanya. Walaupun kalian bungkam, tapi
aku tahu jelas bahwa hati kalian saling
bercakap. Tiba-tiba, kau menggerakkan jemarimu dengan perlahan. Isyarat singkat
yang bermakna “I LOVE YOU”. Gadis itu kembali tertawa lebar.
“Aku
menunggumu di pohon cinta.” Teriak Niki mengajak. Sontak Tomipun salting
mendengar ungkapan itu. Dan menjawabnya dengan anggukan kepala. Tanpa pikir
panjang, Tomi dan Niki segera mengakhiri pertemuan itu dengan lambaian tangan
yang kemudian brlalu begitu saja.
Andai aku
adalah Niki, mungkin aku adalah orang paling beruntung di kos ini, dinegara ini
atau bahkan di planet ini. Tapi sayangnya
tidak. Untuk merasakan cintapun aku tak mampu. Apalagi memilikimu. Memiliki
ketulusan hatimu.
Dengan
perlahan, Tomi dan Niki menginjakkan kakinya di atas permukaan bumi. Kurang
dari 30 menit, mereka bertemu disebuah pohon besar dipinggir trotoar. Ditempat
itulah mereka saling bercakap dan merajut sejuta kenangan indah yang akan
mereka simpan selamanya.
Demi
mengobati rasa rindu yang telah lama Niki pendam, ia menyandarkan kepalanya
diatas pundak Tomi yang masih kokoh itu. Dilihatnya ratusan mobil yang sedari
tadi berlalu lalang dihadapannya
“Rasanya sudah berabad-abad aku gak
ketemu kamu Tom !” Kata niki manja.
“Aku merasakan hal yang sama. Andai
waktu berhenti saat ini dan selamanya Nik. Aku akan merasa sangat bahagia
karena aku akan berada disampingmu selamanya.” Rayu Tomi. Niki hanya membalas
ucapan itu dengan sebuah senyuman kecil sambil melirik wajah kekasihnya yang
eksotik itu.
Nyaman dan tenang. Itulah keadaan
yang sedang mereka berdua rasakan. Suasana hening sejenak. Hingga Tomi memulai
percakapan hari itu dengan ribuah rayuan gombal. Karena ia hanya ingin melihat
Niki kembali tersenyum.
“Nik, kamu tau gak, kemaren tuh aku
ngitung bintang ternyata jumlahnya 1000. Tapi semalem bintangnya tinggal 999.”
“Trus yang satu kemana ?” Tanya
Niki penasaran.
“Nih, yang satu lagi dideketku.”
“Ih....kamu tuh pinter banget kalau
di suruh gombal.”
“Biarin wek. Yang penting, sekarang
kamu dah tersenyum. Aku seneng liat kamu senyum and ketawa Nik.” Ucap Tomi
seraya menatap tajam setiap garis diwajah Niki. Huh.....Dasar cowok, tak pernah
luput dari kata-kata gombal yang tak terjamin kebenarannya.
Detik berganti detik, jam berganti
jam. Itulah selayaknya waktu berjalan. Hari ini, keadaan sudah mulai ramai.
Penghuni kos mulai beraktifitas seperti biasa. Seperti keadaan 2 minggu yang
lalu. Tepat sebelum liburan.
Jarum jam menunjukkan angka 15.30.
seperti biasa, aku melihat kedua insan yang sedang dirundung cinta itu saling
bertatap seusai pulang dari sekolah. Lalu melambaikan tangan dan keduanya
berlalu begitu saja.
Namu sore ini sangat berbeda. Niki
tidak melakukan rutinitas yang biasa ia lakukan setiap sore. Mendadak ia
memalingkan mukanya dan memiringkan bibirnya dari pandangan Tomi yang sejak dua
menit yang lalu menunggunya didepan pintu. Sontak, Tomipun kaget bercampur
khawatir tentang keadaan Niki saat ini.
15 menit telah berlalu. Namun Tomi
masih menunggunya tepat didepanku. Tanpa sengaja aku melihat Niki mengintip
dibalik kaca jendela. Dia menitihkan air mata seraya mengingat tragedi siang
tadi di sekolah. Sementara Tomi, dia hanya termenung dengan wajah pucat. Dan
keduanya berlalu dengan sebuah tangisan.
“Ada masalah ?” Suara Danu memecah
lamunan Tomi. Mereka adalah sahabat. Sangat dekat.
“Niki. Dia terlihat berbeda hari
ini. Garis wajagnya mengusut dan sesekali dia memalingkan wajahnya dari
pandanganku.entah karena alasan apa dia berubah. Yang aku, aku ingin dia tetep
tersenyum Dan.” Jawab Tomi menjelaskan.
Tomi tampak lesu hari ini. Andai
aku bisa bicara, aku akan menghiburnya. Dan andai saja aku bisa bergerak, aku
akan menghapus air mata yang sudah beranak sungai dipipinya.. dia tampak sedang
ada masalah dengan Niki. Walau akupun juga tak mengerti alasan apa yang membuat
Niki seperti itu. Tomi dan Danu masih betah bercakap di depanku. Bahkan Tomi
menyandarkan kepalanya tepat di tubuhku. Manusia yang malang.
Pukul 23.30. Tomi berniat menuruti
kehendak matanya untuk terpejam, hati laki-laki itu seakan brontak. Setiap kali
ia mencoba membuka mata, bayangan tentang Niki terus terngiang. Ia menghela
napas panjang. Hingga kejadian 10 jam yang lalu lambat laun mulai teringat.
Kejadian ketika ia berniat menyampaikan pesan temannya kepada April. Salah satu
temn dekat Niki. Maklum saja, sebelumnya Tomi tak memberitahu tentang ini
kepada Niki. Bahkan, pertemuan itu terlihat cukup romantis. Bagaimana Niki
tidak cemburu, melihat kekasihnya bersama teman deatnya sendiri. Dan itu tepat
dihadapannya. Kejadian itu sontak membuat Niki ketakutan dan mulai menitihkan
air mata. Sejak saat itulah Niki menunjukkan sikap anehnya.
“mungkin itu yang membuat Niki
marah. Besok aku harus ngomong ke Niki.” Batinnya yang telah menemukan jalan
keluar. Bersama jarum jam yang terus berputar, Tomipun mulai terlelap dalam
dekapan sang malam.
Srakk... Suara Danu menarik korden
jendela.. mentaripun menembus celah kamar dan seolah mengobral murah sinarnya
pada seluruh mahluk yang ada disana.
Tomi segera terbangun dari malam
harunya.
“Tom, cepet bangun and berangkat.
Trus temui Niki.” Teriak Danu dari pintu kamar mandi. Tmipun sesegera mungkin
bersiap-siap dan berlalu dalam hitungan detik.
Hampir satu setengah jam Tomi duduk
didalam kelas. Termenung begitu lama. Menunggu seorang gadis muncul dari balik
pintu kelas. Sembari ia menyusun kata-kata manis yang akan ia lontarkan kepada
Niki.
Dan saat itu tiba.
“Nik.....” sapa Tomi dengan wajah
melas.
“Apa sih ?”Jawab Niki dengan senyu
kecilnya.Nampaknya ia sudah melupakan kejadian kemarin.
“Kamu kenapa ? Jangan cemburu. Aku
Cuma nyampein pesen dari Danu buat April.”kata Tomi menjelaskan.
Bagaimana Tomi bisa tau kalau
aku cemburu ? Akukan gak bilang apa-apa ke dia. Tapi syukurlah, dia bisa
mengerti perasaanku sebelum aku mengungkapkan itu. Batin Niki yang penuh
dengan pertanyaan.
“Nik... percayalah.” Nikipun
tersenyum lebar menatap mata Tomi yang hanya hanya 5 cm dari wajahnya.
“Biarin. Kamu nyebelin.” Celetuk
Niki manja. Dan keduanya saling tertawa panjang.
“Nik, kalau kamu beneran sayang
sama aku, aku pengen kamu buktiin” Ujar Tomi dengan suara yang mulai lirih.
“Apa ?”
“Aku pengen sehari besok kita gak ketemu dan kita gak
saling menatap. Berani gak ?”
“Siapa takut !” jawab Niki
semangat.
“Dan satu lagi, surat ini hanya
boleh kamu buka jika kamu sudah melewati satu hari itu. Pokoknya kamu gak boleh
melanggar perjanjian ini kalau kamu bener suka sama aku.” Kata danu sambil
menyerahka amplop merah muda yang ia tulis semalam suntuk.
...
Tak terasa satu hari telah Niki
lalui tanpa bertemu dan tanpa bertatap muka dengan Tomi. Bahkan Niki telah
bosan menatap 3 buah jarum jam yang terus berputar pada porosnya. Tiba- tiba
Niki teringat pada surat yang di berikan Tomi satu hari yang lalu. Tanpa pikir
panjang ia segera mebaca surat yang masih tersimpan rapi dalam lemarinya.
“Dear Niki
Kamu berhasil Nik. Kamu hebat. Dan aku pengen kamu kamu
lakuin itu setiap hari. Sebelumnya Aku minta maaf Nik, aku dan keluargaku akan
pindah rumah di Lampung. Di tempat kelahiran ayahku. Aku tak pernah punya
maksud untuk meninggalkanmu atau menipumu, karena aku akan jadi Matahari untuk
bintang kecilku ini, meski terhalang oleh awan, tapi dia tak akan pernah pergi
dan akan setia menunggu dan menyinari bintang itu, yaitu kamu. Dan aku mau kamu
tetap tersenyum, seperti bintang yang tak pernah redup. Cuma itu adalah syarat
terakhirku. Niki, i’m so sorry that i hurt you but i love you.
Salam manis,
Tomi El-Fathan ”
Surat itu membuat dada
Niki semakin sesak. Bagai pisau belati yang tertancap di ulu hati. Sakit.
Perih.
Tepat pukul 15.30. Seperti biasa. dari
kejauhan, aku melihat sosok laki-laki yang tak asing lagi di mataku. Dia Tomi. Secepat
kilat dia berlari menembus setiap teras kamar,menyusuri puluhan anak tangga
bahkan menerjang pagar besi yang telah lama berdiri disitu.
Dengan sigap, Tomi menatap lurus
kebawah, berharap seseorang yang ia nanti segera muncul dari balik pintu. Aku melihat
gadis itu telah berdiri tegak sambil mencondongkan wajahnya kearahku. Tepatnya
kearah kamar Tomi. Wanita dan laki-laki itu tampak pucat, dan keduanya saling
tertegun. . Tiba-tiba......
Bress.....Hujan turun dengan begitu
derasnya. Menjatuhkan ratusan debit air tanpa jeda. Tapi tidak, hujan tidak
akan memisahkan mereka. Ketika bibir mulai mengeras, kerongkongan mulai
mengering dan kata tak mampu lagi terucap, kini hanya air yang lambat laun
beranak sungai dipipi. Mereka menangis mengadu hati mengenaskan. Bersama ransel
hitam yang sedari tadi ia pegang, Tomi mulai beranjak pergi meninggalkan siluet
yang masih terlihat jelas di benak Niki. Dia mulai menghilang. Jauh. Sunyi. .
Betapa beratnya Niki melepas kepergian Tomi.
Sebuah cinta yang kuharap akan selamanya. Walaupun akulah yang lebih setia
menunggumu disini. Menyimpan sejuta kenangan indahmu bersama Niki. Meskipun aku
tau kau tak akan pernah menganggapku saksimu atau bahkan sekedar mengingatku.
Karna aku hanyalah sebuah PINTU.
saksi bisu
saksi bisu
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar