Minggu, 09 Juni 2013

Antara Cinta Dan Benci

            Plak...” suara peci jatuh di hadapanku.Serontak, aku membalikkan wajah.Mataku memerah, menatap seseorang di pojok kelas.Berdiri, memandangku dengan senyum lirihnya. Sungguh manis. Senyuman yang mampu memundarkan amarahku. Bergegas aku kembali duduk tersipu malu dengan perasaan PD mengingat laki-laki itu.
                “Dia siapa ? dan dia kenapa ? ah, mungkin aku Cuma kepedean. Tapi dia siapa ?”kataku penasaran, maklumlah aku dan dia adalah murid baru di kelas mungil ini. Pelajaran demi pelajaran telah kulalui. Namun, wajahnya masih terngiang-ngiang dalam benakku. Tak ada yang mengetahui hal ini, terutama teman dekatku. Sebut saja Lala, Amel dan Fiza. Mereka adalah teman, teman curhat, teman belajar dan teman ngumpul.
                Beberapa hari telah berlalu, kejadian itu masih tesimpan dalam memoriku. Tet...tet....Bertanda dimulainya waktu pelajaran. Terlihat laki-laki itu berjalan cepat menuju lantai dua, menuju kelas tempat kami mengais sekelumit ilmu.
                “Lala, Fiza, itu....itu siapa ? yang membawa buku biru !” tanyaku penasaraan.
             “Owh,itu Rais. Tuh, satu kelas sama Lala” Jelas Fiza. Perasaan lega dan bahagia menyelimuti hatiku saat ini. Segera aku masuk kelas untuk bergelut dengan pelajaran nahwu, pelajaran yang membuat otak berputar-putar. Bahkan lebih rumit dari pelajaran matematika.
          “Ita...!” suara apak Zain memanggil namaku untuk menghafal kitab imriti. ‘Alhamdulillahilladi qod wafaqo,lingilmi khoiro kholkihi walittuqo...” suaraku menghafal kitab itu. “Rais..” untuk kedua kalinya pak Zain meminta anak laki-laki untuk hafalan bersamaku. Dek...dek...dek...Suara alunan detak jantung yang seolah ingin meledak, bagaikan meriam yang ingin memuntahkan pelurunya ke udara. Dia dihadapanku. Sungguh, hal yang tak pernah terlintas di benakku. Keringat dingin bercucuran deras, mengiringiku menghafal 24 nadhom kitab itu. “Hem....hem...” suara Fiza dan Lala seakan mengejek. Wajahku memerah menangggung malu. Hari-hariku dikelas bedinding coklat itu terasa lebih bewarna. Pandanganku untuk terus menatap laki-laki itu tak urung pergi dari pikiranku. Dia adalah sosok laki-laki yang susah untuk ditebak, seakan banyak misteri yang ia simpan. Rajin, disiplin, rapi. 3 hal yang membuatku tertarik. Tapi, apakah dihatinya ada tempat yang istimewa untukku ?, cewe yang tidak masuk dalam daftar cewe ngetop,exis, terkenal, Dan cewe yang tidak pandai bergaul sepeti aku ini. Ah, aku terlalu banyak berharap. Bukankah cinta itu membutuhkan kepastian, bukan pengharapan !. Padahal hati ini belum memberi jawaban yang tepat untuknya. Entah cinta, sayang atau hanya sekedar ngefanz atau....Aih. aku tidak mengerti.
                Pagi ini terasa sunyi. Hanya ada aku dan Amel yang mengisi kelas nan hampa ini. “Amel, Rais menyukaimu !”. Dek. Aku terdiam mendengar suara laki-laki yang datang tiba-tiba itu. Cemburu, itulah rasa yang sedang menyelimuti hatiku. Rasanya, aku bagaikan cahaya kecil diantaraterangnya sinar mentari. Tapi, dia temanku. Teman dekat malah. Aku hanya mengunci mulut, berpura-pura tidak perduli akan hal itu. Aku mencoba tersenyum dalam hatiku yang terluka. Disisi lain, aku bahkan merasa bahwa laki-laki itu semakin dekat denganku. Entahlah. Untuk kesekian kalinya aku tidak konsen dengan pelajaran. Terus dan terus aku mengingat tragedi itu.
“Amel, kamu cewenya Rais ya ?” tanyaku penasaran.
“ enggak, wong aku gak kenal siapa Rais itu !”, “La trus, kenapa kamu bisa di ejek sama Rais ?”
“Ya aku gak tau !” jelas perempuan berkulit langsap itu.
“Ah...aku tidak boleh befikir negative tentang Amel. Mungkin karena Amel dan Rais dari daerah yang sama kali” Kataku dalam hati.Masa bodoh, kalau jodoh pasti gak bakal kemana. Sejatinya, mengapa sampai saat ini aku tak pernah bosan menatap laki-laki itu, dia cukup keren dan kelihatannya anti cewe. Itulah sosok yang menjadi favoritku. Terdengar oleh telingaku dan Untuk kesekian kalinya, seorang laki-laki berkata “Mel, di cari Rais”. Huft, aku benci kata-kata itu.  
Desember. Bulan tanpa pelajaran atau biasa kita sebut liburan. Bergegas aku pulang, di gubug kecil tempat aku terlahir. Waktu Dua minggu itu kuhabiskan bersama kakak dan bapakku. Berfikirkah kalian, mengapa Ibu tak kusebut ? itu karena sosok perempuan yang melahirkanku itu merantau ke negeri sebrang. Sebut saja Taiwan . Tragis bukan ? hidup tanpa kasih sayang, tanpa timangan, tanpa Ibu. Hp yang tak penah redup, tiba-tiba berdering. Kring....kring....pesan baru,Fiza.
“Ita, kamu punya nomornya Aqila gak ?”.Replay “Enggak fiz.emang kenapa ? Aqila yang mana aja aku gak tau !”. Pesan baru, Fiza
“Ya... kan aku ngefans dia. Pokoknya kalau kamu kasih nomornya Aqila, aku bakal kasih nomor rais. Gimana ?”. “nih nomornya rais.0878XXXXXXXX. Sekarang mana nomornya Aqila ?” lanjut Fiza. “Aku gak tau Fiz. Tapi makasih yah !” balasku kegirangan. Bergegas aku mengirim pesan singkat untuk.
“Hay is...” kirim. Tak lama sesaat setelah kejadian itu, terdengar deringan dari HPku. Pesan baru, Rais. Hatiku seakan bersorak kegirangan.Open.
“Siapa ya ?” balasnya dengan kata-kata cuek.
“Aku Ita,kamu Kenal gak ?” jawabku. “Owh Malik to” maklumlah di sekolah aku selalu dicomblangin dengan Malik. Dia teman satu kelasku. Kita saling ejek-ejekan sebelum akhirnya cerita banyak, bahkan tentang Amel sekalipun. Aku bercerita banyak tentang temanku yang satu itu,Amel. Dia sungguh perhatian dengan Amel, bahkan sampai api cemburu berkobar dihati ini. Memang tak selamanya air susu di balas dengar air susu, dan mungkin pula roda kehidupanku sedang berada di bawah. Tapi mana mungkin seorang Rais mencintai Amel ? Aku tak mempercayai hal itu.
Hari telah berganti hari. Tak kasat mata, bahwa liburan telah usai. Sampai saat ini pula, aku melihat sosok Rais adalah laki-laki yang penuh perhatian. Huft, terlalu jauh aku bermimpi dan berkhayal tentangnya. Hari ini menjadi hari pertamaku di asrama, sesaat sesudah liburan. Aku merindukan satu hal yang tak pernah aku lakukan dirumah, yaitu chattingan diwarnet yang letaknya tak jauh dari asrama tempat aku tinggal akhir-akhir ini. Ditempat itulah aku bergegas membuka facebook (FB). Itathegirl@yahoo.co.id. Ikon yang sudah cukup lama enggan kubuka itu, tampak ada beberapa pesan masuk dan beberapa permintaan pertemanan yang meramaikan coretan, status dan komenan di FBku. Sejak saat itu, muncul keinginanku untuk mengenalnya lebih jauh. Kata demi kata kutelusuri untuk menemukan nama Mudzakir Rais. Layaknya kata pepatah, tak ada suatu usaha yang berujung sia-sia, pasti akan membuahkan hasil meski tidak begitu memuaskan. Tak begitu lama aku terpaku pada layar komputer, Hingga nama itu mulai mengisi banyaknya pesan masuk di ikonku. Dia sedang online. Namun, nampaknya aku masih canggak untuk menunjukkan perasaanku lewat coretan di FB ini. Ah, masa bodoh, aku harus mencobanya.
“Ih rais, cowo ko suka dangdut” pesanku yang seakan mengejeknya. Maklumlah, aku melihat video dangdut yang terpajang di dinding FBnya. “Halah ngemeng wae !” balasnya seakan api kemarahan sedang berkobar dalam dirinya. Aku takut, bahkan sangat takut. Apa aku salah ? aku hanya ingin menjadi temannya. Hanya teman atau sahabat, tak lebih. Tapi dia marah, aku benci seseorang yang marah kepadaku. Atau aku yang manja ? hanya karena itu aku ngambek !. Aku tak kuasa lagi membalas pesan itu. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dalam benakku, menambah rentetan masalah dalam hidupku.
“Aku benci dia.... ” Teriakku di sepanjang jalan menuju asrama. Meskipun telah banyak tragedi yang telah menghiasi kehidupanku saat ini, namun aku tidak punya nyali untuk mengungkapkan langsung dengannya. Aih, begitu bodohnya aku. Apa kata dunia jika cewe mengungkapkan isi hatinya lebih dulu kepada seorang cowo. Yah, Paling tidak, aku telah cukup mengenal laki-laki itu.
Hari ini, hari pertamaku di kelas B program B. Terdengar banyak desas-desus tentang Rais dan Amel. Aku tak begitu perduli akan hal itu, karena dia temanku. Telah banyak yang kuceritakan tentang Amel kepada Rais. Mungkin, Rais bisa merubah sikap Amel yang sekarang. Sikap yang sangat kurang dan sangat butuh perhatian. Rais begitu peduli dengan cewe itu, sampai-sampai membuatku cemburu. Tapi dia temanku. Huft, biarlah. Aku bingung dengan apa yang sedang aku rasakan.Sekarang, aku harus lupakan hal itu, memulai hal baru, dan memulai pelajaran baru.
Hari ini adalah hari terbaiku. Aku bersyukur, karena hari ini aku masih bisa mendengar. Mendengar gosip baru bahwa Rais telah menemukan cintanya, menemukan seseorang yang telah mengisi hatinya. Dia Lulu, teman satu kelasku. Tapi kenapa harus dia ? Aku ada disini, aku menyayanginya jauh sebelum Lulu mengenalnya. Ya sudahlah, mereka pasangan yang serasi, dia akan membuat Rais bahagia.
Sampai saat ini, aku harus menerima kenyataan, meskipun aku harus siap melihat dua sejoli itu bertatap muka di hadapanku. Aku harus bisa melawan perasaan ini, aku harus bisa memadamkan api cemburu yang sedang berkobar dihati ini. Tapi, aku tak bisa membendung air mata, mereka telah bahagia, meninggalkanku yang telah lama menunggu. Aku hanya diam diantara dua hati yang sedang menyatu.
7 april 2011, disini hujan. Namun hal ini tak mengurungkan niatku untuk pulang ke kampung halaman. Aku merindukan rumah dan aku merindukan HPku yang dulu. Ternyata nomor laki-laki itu masih tersimpan di memori HPku. Aku ingin tau kabarnya. Telah lama aku tidak menghubungi laki-laki itu. Namun, aku tak berani mengungkapkan itu. Awalnya aku ragu, tapi aku harus mencoba meskipun awalnya aku hanya berbohong untuk sekedar basi-basi.
“Rais,kamu dapet salam dari mbak-mbak kelas 3 MA. Aku gak tau dia namanya siapa, tapi dia ngefanz kamu. Aku kemarin mau bilang langsung ke kamu, tapi aku gak berani. Ita ” kataku yang kukirim dalam pesan singkat.
“Dia namanya siapa ?” balasnya seakan penasaran. “Aku gak tau is” jawabku dengan perasaan jengkel dan bahagia. Kita saling bertanya sebelum akhirnya banyak bercanda.
Hal itupun tak berlangsung lama, pecakapan dalam pesan singkat itu, berujung pada pertengkaran. Awalnya, aku hanya sekedar menebak-nebak, namun dia terlanjur emosi dengan sikapku. Hingga aku harus jujur demi melawan emosi yang sedang menyelimuti hati ini.
“Aku perduli kamu karena aku ngefanz kamu” kataku yang menurutku merupakan hal terbodoh yang pernah aku lakukan.
“Oh, itu problem kamu ? itu terserah kamu. Emang gua pikirin !” jawabnya seakan membentak dengan penuh emosi.
“Amit...amit aku punya pacar kayak kamu. Gampang marah,egois, nyebelin pula.”
“Hati-hati kalo ngomong, emang aku suka apa sama kamu. Cewe sok banget”balasnya PD.
“Hey, sadar mas. Itu dulu, lagian bisa-bisanya Lulu suka ma kamu. Galak”
“Sebelumnya makasih dah ngefanz. Tapi, iri banget to kamu sama Lulu. Dah deh, kamu itu gak bakal bisa kayak Lulu.”
“Ih, siapa juga yang pengen kayak dia, dicintai seseorang yang belum tentu tulus apa enggak” balasku seakan menyindir.
“Jaga tu mulut. Tau anak SMA ancur loe” jawabnya. Cukup, cukup sampai sini aku bertengkar dengannya. Cinta ini berubah menjandi benci. Sangat benci.
11 april 2011. Siang ini hujan, dan hari ini aku masuk sekolah seperti biasanya. Kelas masih sepi, hanya beberapa orang yang datang. Kubuka buku “Hikmah dari sebrang” tertulis kata-kata mutiara dalam buku itu, “Aku marah karena aku tidak memiliki sepatu, kemudian aku melihat orang yang tak memiliki kaki” kata yang membuat hati ini tersentuh, dan akhirnya kutulis di papan tulis yang masih terlihat hitam. Kemudian bress, hujan turun deras sekal. Aku bergegas keluar menatap hujan yang seakan menangis. Tak lama kemudian, tampak dari gerbang seorang laki-laki berlari menuju kelasnya. Kelas 1B program B. Dia Rais, aku kagum dengan sikapnya kali ini. Dia hebat dan rajin. Dia adalah laki-laki pertama yang datang dikelas ini. Aku tersenyum lirih melihatnya dengan baju yang basah kuyup. Tiba-tiba...
“Yea...CLBK ni. Cinta Lama Belum Kelar” ejek Fiza ketika melihatku dikelas sendirian bersama Rais.
“PD,mau di bayarpun gak bakal mau aku jadi pacarnya” Jawab laki-laki itu.
“GR, siapa juga yang mau jadi cewe mu. Jaga tu mulut ” kataku dengan perasaan jengkel. Dia diam dan kemudian berbicara lirih. Hujan telah meredam. Pak guru dan siswa lainnya telah datang. Tak kusangka, pak guru membaca kata-kata yang kutulis sebelumnya.
“Ini tulisan siapa ?” tanya pak guru. “Ita pak” jawab Rais. Banyak pertanyaan yang terlintas dibenakku. Dia tau dari mana bahwa itu tulisanku ?, padahal dia tidak melihat. Ah, mungkin cuma kebetulan. Tapi bagaimana dia mengetahui hal itu ?. Lupakan, bukankah aku memutuskan untuk membencinya ?. Tuhan, tolong bantu aku untuk melupakan laki-laki itu. Bahkan sampai detik ini dia masih terlihat mesra bersama kekasihnya. Mereka berdua dihadapanku. Telah lama hati ini menyimpan luka, telah lama aku melawan pahitnya cinta. Dan inilah saatnya aku harus bangkit dari kuatnya penjara yang menyimpan duka. Meskipun  rasa cinta masih membekas dalam dada nan gelap gulita. Aku harus melakukan ini. Melemparnya jauh-jauh dan keluar dari pahitnya perasaan benci dan cinta. Perasaan yang sulit untuk dipisahkan. Layaknya lagu yang dilantunkan oleh band Geisha
“Sungguh aku tak bisa, sampai kapanpun tak bisa. Membenci dirinya sesungguhnya aku tak mampu. Sulit untukku bisa, sungguh sulitku tak bisa, memisahkan sgala cinta dan benci yang kurasa...”
Selamat tinggal Rais. Inilah catatanku tentangmu. Catatan ini kubuat saat kita berada dikelas I B program B. Catatan lama yang tersimpan didasar hati yang paling dalam dan gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar