LITTLE PEACE
“Welcome to our home. The hostel girls of heaven.” sambut
Ardhea dengan senyumnya yang ku rasa selebar daun kelor mulai mengembang penuh semangat siang itu.
Berada di depan pintu gerbang. Tepat di hadapanku terlihat jelas sebuah gedung
mewah dengan dua lantai di atasnya. Terkesan seperti rumah susun bernuansa
minimalis. Tepat di samping pintu gerbang bertuliskan “yang buang sampah disini
jadi gila. Amin 3000x.” Sederhana
tetapi yakinlah tidak ada yang berani membuang sampah sembarangan
di sini, hehe....
Aroma Putu Ayu yang telah nongkrong sejak pukul 12.15 wib
semakin menambah kerinduanku pada kota bertagline spirit of java yang di
berikan Joko Widodo pada masa beliau menjabat sebagai wali kota Solo.
Huwwh...desahku sambil melongokkan kepalaku yang kian
berat setelah menaiki 210 anak tangga untuk menuju lantai tiga. Kulemparkan tas
diatas ranjang, menyandarkan tubuh mungilku di dinding berselimut warna putih
tepat berada di samping ranjang. Menatap dinding kuning pada satu sisi di ujung
ruangan. Mengingat tragedi beberapa jam yang lalu. Di sekolah.
“Udahlah Dy, kayak gak kenal Piphin aja. Dia emang gitu.
Cuek bebek. ” katanya sambil membereskan baju diatas ranjang yang bersampingan denganku. Ya, gedung ini
terdiri dari tiga lantai. masing-masing lantai terdiri dari tiga kamar yang di dalamnya terdapat empat tempat tidur
tingkat beserta almari besar dengan dua
kubu di samping tiap tempat tidur. Terletak disamping pintu masuk, terdapat
loker dengan delapan pintu di tubuhnya.
“Menurut
lo, gue kurang gimana sampai dia gak ngrespon gue sedikitpun.”
AKu
melempar tas tepat diatas ranjang. melepas sragam putih abu-abu yang sedari
tadi menempel di tubuhku hingga aku hanya berlapiskan baju tanktop dan celana
kick denim, dan sepatu yang sebelumnya telah ku letakkan di loker.
“ya......mana
ku tau. Menurut gue nih, nama Piphin juga kagak sesuai dengan tipikal cowok seperti
Josephin. Bayangin aja, di film A Crazy Little Thing Called
Love yang namanya Pin itu orangnya baik hati, dewasa
pula. Gak kayak Josephin.” Aku hanya bergeming sambil memeluk si pillow
kesayanganku. Menyimak Ardhea yang tak
henti hentinya berkomentar.
“Gue punya ide bagus.” Katanya setelah meletakkan
tumpukan baju di dalam almari.
“Apaan ?”
“Gak usah bawel. Dari pada lo galau, mending lo ikut
gue.”
Sedikit memaksa. Jemarinya menggenggam erat pergelangan
tanganku, lantas membawaku ke loteng. Tempat yang menurutku sangat hina. Hanya
tersekat oleh sebuah tembok dan hanya
membutuhkan waktu lima detik untuk melewati sepuluh anak tangga.
Kulihat sekeliling. Lantai penuh debu, pakaian kotor dan
ember pecah berpadu menjadi satu.
Menciptakan sebuah harmoni yang bertajuk “Tempat Kumuh.” Bukan karena aku
sombong dan alergi kotor, tapi itu fakta.
Berbekal
sebuah ember yang berada di satu sisi bersama tumpukan kain yang di dominasi
oleh pakaian dalam tak bertuan sejak satu tahun silam.
“Buat apa kita kesini ? ini cuma buang-buang waktu saja
Ar. Lagi pula, aku malu kalau tiba-tiba ada cowok yang lihat kita, pasti nama
baik kita bakal tercoreng. Tau sendirikan Ar, tempat ini tu markasnya genk killer,
kalo kita ketahuan pasti bakal jadi masalah besar. ” Rentetan kalimat protes yang tak henti-hentinya
ku lontarkan.
“Nona Mody. Please deh, jangan sebut lo anak Hostel kalo
belum menjajal tempat ini.”
Segila itukah ? The Hostel girls of Heaven adalah tempat
bagi pelajar elit dengan Gedung yang
mewah serta fasilitas extra. Meskipun sebenarnya kalimat itu tidak tepat
untukku. Karna aku bukan dari keluarga
elit. Semuanya berawal dari sebuah mimpi, secercah harapan serta kesempatan yang
di iringi oleh usaha dan kini menjelma menjadi nyata. Membawaku melangkah penuh
tekat di tempat ini.
Aku
mengamati kesibukannya yang telah berdiri diatas permukaan ember terbalik.
“Lo masih gak percaya ? Gue sebagai teman yang baik
menyarankan agar lo mengikuti saran gue. Lihat tuh, cowok yang lo taksir waktu
kelas satu.”
Buru-buru aku memposisikan diri di samping Ardhea yang
telah standby di atas ember sejak beberapa detik lalu. Berdiri dengan menjinjit
untuk melihatnya lebih jelas, karna aku memang teramat lebih pendek dari tembok
kusam yang mengelilingi jemuran itu.
Aku
terkesima melihat suasana The Hostel Boys of Heaven yang hanya berjarak dua
puluh langkah dari Hostel putri. Bergeming mengamati hiruk pikuk hostel putra
dengan teropong bumi milik Ardhea. Mengabsen satu persatu cowok yang beberapa
diantaranya adalah temanku dan satu di antaranya adalah Phin.
“Dia tetap sama. Tetap keliatan cupu dengan kaca mata
barunya. Semoga dia mendapat yang terbaik.” Kataku yang hampir tidak berkedip
sedetikpun menatap wajahnya yang sedang berdiri di balkon depan kamar. Bergeming mengamati hilir
mudik pengguna jalan. Ku sentuh kedua pipiku dengan mulut yang hampir tak bisa
ku tutup.
“Tuh Dy ada Duta. Dia keliatan tambah ganteng aja.”
Ardhea menjulurkan tangannya kearah laki-laki itu. Duta,
dia adalah kekasih Ardhea setelah beberapa saat ini. Jujur saja, aku memang tak
tau jelas tentang seluk beluk hubungan mereka walaupun aku dan Ardhea adalah
teman dekat sekalipun. Pantas saja, mereka gak jelas. Hubungan gak jelas, wajah
Dutapun kadang aku gak jelas. Buatku.
“Eh Ar, lyat deh. Cowok yang lagi nyapu halaman itu siapa
sih ? kayaknya gue kenal cowok itu.”
“Oh my God, itukan Piphin Dy. Kog dia, dia jadi tukang
kebersihan.”
Tak ada jawaban. Seluruh pikiranku terfokus pada objek
yang ku intip dari lubang teropong. Tangan yang terbungkus sapu tangan hitam
itu sedang memindahkan tumpukan sampah ke dalam grobak. Seperti yang ia lakukan
pagi tadi. Lantas berlalu dan menghilang dalam hitungan detik.
Mataku mulai memanas. Sempat terlintas di benakku tentang
laki-laki itu, tentang jalan hidup yang
di pilihkan Tuhan untuknya, tentang rasa lelah yang kini menyatu bersamanya
meskipun aku tak mengenalnya lebih jelas.
“
sudahlah Dy. Kalo itu bener Piphin, berarti dia memang cowok mandiri.”
Sementara
itu, Ardhea terus saja menyerocos.
“
By the way, Gimana. Lo masih menganggap tempat ini sebagai tempat buat orang
kurang kerjaan ?” Ujar Ardhea lagi, memecahkan keheningan yang baru saja
menyelimuti seluruh pikiranku, layaknya pemandu suara yang sesekali memandangku
dengan tatapan khawatir sekaligus tawa garingnya.
“Apaan sih lo. tapi tempat ini tetap norak and gak
bermanfaat buat seorang pelajar. Tapi gue akui, kali ini lo menang, but this will not apply for tomorrow and beyond. Jangan harap aku
mau kesini lagi buat hal yang hanya buang-buang waktu saja.”
Aku memincingkan mataku. Sedikit bergeming dan hanya
menyunggingkan ekor bibir beberapa centi saja. Dia tertawa puas seraya
mengayunkan tangannya memukul pundakku. Tanpa di sadari tawa itu telah
mengganggu masa rehibernasi para tupai Hostel sebelah. Iya, tupai. Karena
mereka terlihat seperti tupai tupai dalam pohon untuk menghabiskan waktu
istirahat dan tidurnya.
“Woy, siapa itu.”
Sebuah
teriakan lantang yang terdengar keras dari Hostel sebelah.
“Tiarap.”
Kataku setelah menyadari keberadaan kami
terendus oleh mereka. Tanpa pikir panjang lebar aku menarik rambut yang
tak henti hentinya tertawa ria di depan daun telingaku. Jongkok di balik punggung tembok.
Prak....
sebuah gayung merah muda dengan ornamen strawberry dan bertuliskan back to
nature di sisi depannya melayang dan mendarat tepat di hadapan kami. Kami
saling merangkul tanda ekspresi terkejut ala tablo style. Diam beberapa detik,
memandang gayung yang telah bertransisi lantas berakhir dengan gelak tawa yang
berlangsung hampir bersamaan.
“Elo
sih Ar. Bicara aja kayak lagi neriakin maling.”
“Untung
kaga kena Dy. Dasar pelempar gayung amatiran.” Dengan congkaknya Ardhea berdiri
di sebelahku. Masih di atas singgasan ember.
Brak,
wajahku telah tersungkur di lantai berlapis semen, entah semen Gresik atau
semen Tiga Roda yang penting semen. Kujulurkan tanganku untuk menahan badan dan
dengkul yang telah jatuh lebih awal. Ku lirik Ardhea, ia tampak kesakitan
sembari mengusap pantatnya beberapa kali.
“Lo
gak papa kan Dy?”
Ia
bergegas menghampiriku. Menjulurkan tangannya di atas pundakku. Aku hanya
bergeming menundukkan kepala menghadap lantai. Merintih.
“Dy.
Lo gak papakan ?” sekali lagi pertanyaan itu ia lemparkan. Pelan aku
memalingkan wajah yang di hiasi tampang memelas. Seperti bayi menangis pada umumnya. Bertahan
selama tiga detik. Satu, dua, tiga “very silly face. hahahaha”
Dalam
sekejap tawaku membahana melihat kekhawatiran Ardhea yang sama persis ketika ia
menahan sakit perut karna diare. Aku menertawakannya.
“Sialan
lo. Percuma gua, ngeladenin orang gila.”
Tangan
yang sebelumnya menyentuh lembut pundakku kini berakhir pada sebuah dorongan
yang hampir membuatku kembali terhempas ke lantai. Dia beranjak meninggalkanku
yang masih bertahan dengan tawaku nan panjang.
“Ardhea.
Tungguin donk.” Bergegas aku mengikutinya. Mengekor di belakangnya.
Dan
dia ! Dia satu satunya orang yang ku kenal dengan baik. Selain Yoona. Karna
keduanya adalah dua kutub magnet yang saling berlawanan dan membuat mereka
saling melengkapi meski pada kenyataannya saling membenci. Tak satupun orang di
dunia ini yang sangat kukenal selain orang itu. Tak ada satupun yang kukenal
dengan baik dan mengenalku dengan baik selain dia. Lebih tepatnya mereka. Dari
perdebatan yang membuatku memahami arti menghargai. Hening dalam kesendirian,
membuatku menyadari arti sebuah kebersamaan. Dan skenario pilu yang mengajariku
arti bahagia. Kebahagiaan kecil, bersamamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar