Sabtu, 08 Juni 2013

Cerpen "LITTLE PEACE"



LITTLE PEACE
            “Welcome to our home. The hostel girls of heaven.” sambut Ardhea dengan senyumnya yang ku rasa selebar daun kelor  mulai mengembang penuh semangat siang itu. Berada di depan pintu gerbang. Tepat di hadapanku terlihat jelas sebuah gedung mewah dengan dua lantai di atasnya. Terkesan seperti rumah susun bernuansa minimalis. Tepat di samping pintu gerbang bertuliskan “yang buang sampah disini jadi gila. Amin 3000x.”  Sederhana tetapi  yakinlah tidak ada  yang berani membuang sampah sembarangan di sini, hehe....
            Aroma Putu Ayu yang telah nongkrong sejak pukul 12.15 wib semakin menambah kerinduanku pada kota bertagline spirit of java yang di berikan Joko Widodo pada masa beliau menjabat sebagai wali kota Solo.
            Huwwh...desahku sambil melongokkan kepalaku yang kian berat setelah menaiki 210 anak tangga untuk menuju lantai tiga. Kulemparkan tas diatas ranjang, menyandarkan tubuh mungilku di dinding berselimut warna putih tepat berada di samping ranjang. Menatap dinding kuning pada satu sisi di ujung ruangan. Mengingat tragedi beberapa jam yang lalu. Di sekolah.
            “Udahlah Dy, kayak gak kenal Piphin aja. Dia emang gitu. Cuek bebek. ” katanya sambil membereskan baju diatas ranjang  yang bersampingan denganku. Ya, gedung ini terdiri dari tiga lantai. masing-masing lantai terdiri dari tiga kamar  yang di dalamnya terdapat empat tempat tidur tingkat  beserta almari besar dengan dua kubu di samping  tiap tempat tidur.  Terletak disamping pintu masuk, terdapat loker dengan delapan pintu di tubuhnya.
“Menurut lo, gue kurang gimana sampai dia gak ngrespon gue sedikitpun.”
AKu melempar tas tepat diatas ranjang. melepas sragam putih abu-abu yang sedari tadi menempel di tubuhku hingga aku hanya berlapiskan baju tanktop dan celana kick denim, dan sepatu yang sebelumnya telah ku letakkan di loker.
“ya......mana ku tau. Menurut gue nih, nama Piphin juga kagak sesuai dengan tipikal cowok seperti Josephin. Bayangin aja, di film A Crazy Little Thing Called Love yang namanya Pin itu orangnya baik hati, dewasa pula. Gak kayak Josephin.” Aku hanya bergeming sambil memeluk si pillow kesayanganku.  Menyimak Ardhea yang tak henti hentinya berkomentar.
            “Gue punya ide bagus.” Katanya setelah meletakkan tumpukan baju di dalam almari.
            “Apaan ?”
            “Gak usah bawel. Dari pada lo galau, mending lo ikut gue.”
            Sedikit memaksa. Jemarinya menggenggam erat pergelangan tanganku, lantas membawaku ke loteng. Tempat yang menurutku sangat hina. Hanya tersekat oleh sebuah tembok  dan hanya membutuhkan waktu lima detik untuk melewati sepuluh anak tangga.
            Kulihat sekeliling. Lantai penuh debu, pakaian kotor dan ember  pecah berpadu menjadi satu. Menciptakan sebuah harmoni yang bertajuk “Tempat Kumuh.” Bukan karena aku sombong dan alergi kotor, tapi itu fakta.
Berbekal sebuah ember yang berada di satu sisi bersama tumpukan kain yang di dominasi oleh pakaian dalam tak bertuan sejak satu tahun silam.
            “Buat apa kita kesini ? ini cuma buang-buang waktu saja Ar. Lagi pula, aku malu kalau tiba-tiba ada cowok yang lihat kita, pasti nama baik kita bakal tercoreng. Tau sendirikan Ar, tempat ini tu markasnya genk killer, kalo kita ketahuan pasti bakal jadi masalah besar. ”  Rentetan kalimat protes yang tak henti-hentinya ku lontarkan.
            “Nona Mody. Please deh, jangan sebut lo anak Hostel kalo belum menjajal tempat ini.”
            Segila itukah ? The Hostel girls of Heaven adalah tempat bagi  pelajar elit dengan Gedung yang mewah serta fasilitas extra. Meskipun sebenarnya kalimat itu tidak tepat untukku. Karna  aku bukan dari keluarga elit. Semuanya berawal dari sebuah mimpi, secercah harapan serta kesempatan yang di iringi oleh usaha dan kini menjelma menjadi nyata. Membawaku melangkah penuh tekat di tempat ini.  
Aku mengamati kesibukannya yang telah berdiri diatas permukaan ember terbalik.
            “Lo masih gak percaya ? Gue sebagai teman yang baik menyarankan agar lo mengikuti saran gue. Lihat tuh, cowok yang lo taksir waktu kelas satu.”
            Buru-buru aku memposisikan diri di samping Ardhea yang telah standby di atas ember sejak beberapa detik lalu. Berdiri dengan menjinjit untuk melihatnya lebih jelas, karna aku memang teramat lebih pendek dari tembok kusam yang mengelilingi jemuran itu.
Aku terkesima melihat suasana The Hostel Boys of Heaven yang hanya berjarak dua puluh langkah dari Hostel putri. Bergeming mengamati hiruk pikuk hostel putra dengan teropong bumi milik Ardhea. Mengabsen satu persatu cowok yang beberapa diantaranya adalah temanku dan satu di antaranya adalah Phin. 
            “Dia tetap sama. Tetap keliatan cupu dengan kaca mata barunya. Semoga dia mendapat yang terbaik.” Kataku yang hampir tidak berkedip sedetikpun menatap wajahnya yang sedang berdiri di  balkon depan kamar. Bergeming mengamati hilir mudik pengguna jalan. Ku sentuh kedua pipiku dengan mulut yang hampir tak bisa ku tutup.
            “Tuh Dy ada Duta. Dia keliatan tambah ganteng aja.”
            Ardhea menjulurkan tangannya kearah laki-laki itu. Duta, dia adalah kekasih Ardhea setelah beberapa saat ini. Jujur saja, aku memang tak tau jelas tentang seluk beluk hubungan mereka walaupun aku dan Ardhea adalah teman dekat sekalipun. Pantas saja, mereka gak jelas. Hubungan gak jelas, wajah Dutapun kadang aku gak jelas. Buatku.
            “Eh Ar, lyat deh. Cowok yang lagi nyapu halaman itu siapa sih ? kayaknya gue kenal cowok itu.”
            “Oh my God, itukan Piphin Dy. Kog dia, dia jadi tukang kebersihan.”
            Tak ada jawaban. Seluruh pikiranku terfokus pada objek yang ku intip dari lubang teropong. Tangan yang terbungkus sapu tangan hitam itu sedang memindahkan tumpukan sampah ke dalam grobak. Seperti yang ia lakukan pagi tadi. Lantas berlalu dan menghilang dalam hitungan detik.  
            Mataku mulai memanas. Sempat terlintas di benakku tentang laki-laki itu,  tentang jalan hidup yang di pilihkan Tuhan untuknya, tentang rasa lelah yang kini menyatu bersamanya meskipun aku tak mengenalnya lebih jelas.
“ sudahlah Dy. Kalo itu bener Piphin, berarti dia memang cowok mandiri.”
Sementara itu, Ardhea terus saja menyerocos.
“ By the way, Gimana. Lo masih menganggap tempat ini sebagai tempat buat orang kurang kerjaan ?” Ujar Ardhea lagi, memecahkan keheningan yang baru saja menyelimuti seluruh pikiranku, layaknya pemandu suara yang sesekali memandangku dengan tatapan khawatir sekaligus tawa garingnya.
            “Apaan sih lo. tapi tempat ini tetap norak and gak bermanfaat buat seorang pelajar. Tapi gue akui, kali ini lo menang, but this will not apply for tomorrow and beyond. Jangan harap aku mau kesini lagi buat hal yang hanya buang-buang waktu saja.
            Aku memincingkan mataku. Sedikit bergeming dan hanya menyunggingkan ekor bibir beberapa centi saja. Dia tertawa puas seraya mengayunkan tangannya memukul pundakku. Tanpa di sadari tawa itu telah mengganggu masa rehibernasi para tupai Hostel sebelah. Iya, tupai. Karena mereka terlihat seperti tupai tupai dalam pohon untuk menghabiskan waktu istirahat dan tidurnya.
            “Woy, siapa itu.”
Sebuah teriakan lantang yang terdengar keras dari Hostel sebelah.
“Tiarap.” Kataku setelah menyadari keberadaan kami  terendus oleh mereka. Tanpa pikir panjang lebar aku menarik rambut yang tak henti hentinya tertawa ria di depan daun telingaku.  Jongkok di balik punggung tembok.
Prak.... sebuah gayung merah muda dengan ornamen strawberry dan bertuliskan back to nature di sisi depannya melayang dan mendarat tepat di hadapan kami. Kami saling merangkul tanda ekspresi terkejut ala tablo style. Diam beberapa detik, memandang gayung yang telah bertransisi lantas berakhir dengan gelak tawa yang berlangsung hampir bersamaan.
“Elo sih Ar. Bicara aja kayak lagi neriakin maling.”
“Untung kaga kena Dy. Dasar pelempar gayung amatiran.” Dengan congkaknya Ardhea berdiri di sebelahku. Masih di atas singgasan ember.
Brak, wajahku telah tersungkur di lantai berlapis semen, entah semen Gresik atau semen Tiga Roda yang penting semen. Kujulurkan tanganku untuk menahan badan dan dengkul yang telah jatuh lebih awal. Ku lirik Ardhea, ia tampak kesakitan sembari mengusap pantatnya beberapa kali.
“Lo gak papa kan Dy?”
Ia bergegas menghampiriku. Menjulurkan tangannya di atas pundakku. Aku hanya bergeming menundukkan kepala menghadap lantai. Merintih.
“Dy. Lo gak papakan ?” sekali lagi pertanyaan itu ia lemparkan. Pelan aku memalingkan wajah yang di hiasi tampang memelas.  Seperti bayi menangis pada umumnya. Bertahan selama tiga detik. Satu, dua, tiga “very silly face. hahahaha”
Dalam sekejap tawaku membahana melihat kekhawatiran Ardhea yang sama persis ketika ia menahan sakit perut karna diare. Aku menertawakannya.
“Sialan lo. Percuma gua, ngeladenin orang gila.”
Tangan yang sebelumnya menyentuh lembut pundakku kini berakhir pada sebuah dorongan yang hampir membuatku kembali terhempas ke lantai. Dia beranjak meninggalkanku yang masih bertahan dengan tawaku nan panjang.
“Ardhea. Tungguin donk.” Bergegas aku mengikutinya. Mengekor di belakangnya.
Dan dia ! Dia satu satunya orang yang ku kenal dengan baik. Selain Yoona. Karna keduanya adalah dua kutub magnet yang saling berlawanan dan membuat mereka saling melengkapi meski pada kenyataannya saling membenci. Tak satupun orang di dunia ini yang sangat kukenal selain orang itu. Tak ada satupun yang kukenal dengan baik dan mengenalku dengan baik selain dia. Lebih tepatnya mereka. Dari perdebatan yang membuatku memahami arti menghargai. Hening dalam kesendirian, membuatku menyadari arti sebuah kebersamaan. Dan skenario pilu yang mengajariku arti bahagia. Kebahagiaan kecil, bersamamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar