By : intan nur k
BLACK ANGEL
Pukul
06.15.
Deruh
kendaraan saling kebut bagai alunan melodi khas daerah padat penduduk yang kini
mengiringi perjalananku. Bersama udara pagi yang masih menyisakan butiran embun
dan aroma parfum Bubble Gum mulai beradu dengan bau ayam milik pedagang pasar
yang berada satu angkot denganku.
“Pak, kanan.” Teriak seorang laki-laki tua yang duduk di
ujung angkot. Sambil memukul atap dengan uang logam di sela jari tangan
kanannya. Ia membungkukkan badan sambil berjalan menuju pintu. Tiba-tiba...
Seeet….Brak. Wajahku yang masih ayu dengan
balutan bedak dan foundation sebelumnya harus bertubrukan bahkan tertimpa
pantat laki-laki itu.
“Eh. Maaf neng , ndak sengaja.” Katanya. Aku meresponnya dengan senyum kecut yang sebenarnya hanya sandiwara semata.
“Eh. Maaf neng , ndak sengaja.” Katanya. Aku meresponnya dengan senyum kecut yang sebenarnya hanya sandiwara semata.
Selang tiga
menit, angkot itu berhasil membawaku tepat di depan pintu gerbang. Aku melompat
ke luar dari gerbong kereta, lalu menerobos kerumunan orang yang sedari tadi
telah berlalu lalang di hadapanku. Sebuah ransel jenis personalized warna biru
membelit kedua lenganku dengan rapat.
Segera
setelah mencapai teras bangunan, aku menyebrangi jalan raya yang lebar-selalu
semerawut dan berdebu. Hardik klakson mengiringi aksi nekat itu, mengantar ke
hadapan sebuah bangunan mewah dengan sikap optimis. Di pelataran aspal, tampak
sebuah tulisan yang terlihat jelas dari jalan raya. Batik Indonesia High School.
“Dunia. Semoga hari ini akan menjadi hari yang
indah.”
Aku
menarik napas panjang untuk memantapkan hati. Kakiku melangkah dengan cepat dan
lebar, melewati empat-lima kotak tegel kotak sekaligus, menimbulkan kegaduhan
setiap menapak di permukaan ubin semen yang kelabu dan basah setelah hujan yang
mengguyur tadi malam.
Sesekali kulirik sepatu Wondershoe baru yang ku beli saat
berkunjung di Robinet store, satu satunya toko milik Wondershoe yang terletak
di daerah Kemanggisan, Jakarta.
Perpaduan antara warna krem dan hitam diujungnya semakin menambah rasa
percaya diri.
Behenti sejenak di tengah halaman. Memandang gedung yang
telah berdiri kokoh menopang dua lantai diatasnya. Warna putih yang melapisi sebagian besar
tubuhnya menimbulkan kesan simple ala green building. Dan ada satu hal yang
paling menonjol di sekolah ini,
“disini
banyak cowok ganteng dan tajir” walaupun sebenarnya bukan itu yang menjadi tipikal
utama cowok idaman dalam kamusku.
***
“Lucu.”
Aku
tersentak. Dengan mata yang nanar aku mengedarkan pandangan. Mencari sumber
suara yang baru saja terdengar tertawa lirih. Atau mungkin hanya sebuah
halusinasi saja. Mataku kembali menyipit, menghindari sinar matahari yang mulai
mengobral sinarnya.
Aku
tersentak. Ternyata suara tadi benar-benar bukan halusinasi semata. Seorang
laki-laki asing berdiri tak jauh dariku, menatap dengan senyum yang membuatku
tidak nyaman. Di tangan kanannya terdapat sebuah sapu usang. Memakai baju hitam
yang mulai pudar.
Aku
balas menatapnya, lebih detail. Potongan rambut yang terlihat acak acakan
dengan tambahan poni ke samping yang agak panjang-dan menutupi sebagian kecil
mata kanannya. Rambut yang jatuh ke
depan itu tak memunculkan aura feminin, malah sebaliknya, sisi maskulin yang
tampak menggoda tersirat jelas dari sorot mata.
Ya
ampun
Laki-laki
itu mirip Piphin. Bedanya adalah dia memiliki tubuh yang lebih kurus dan
tinggi. Dengan kulit lebih gelap di bandingkan Piphin. Dan dia tersenyum dengan
cara yang terlihat lebih tulus.
Ia
mulai gugup, lantas beranjak menarik grobak dengan tumpukan sampah di dalamnya
dan pergi. Bergeming untuk beberapa detik.
“Mody” terdengar seseorang memanggil namaku. Mody
Capricorn. Konon, ibu memberi nama itu untuk menyesuaikan dengan tanggal
lahirku 3 Januari sebagai penyandang zodiak Capricorn.
“Mooooodyy….” Sekali lagi suara itu berdengung keras
memenuhi telingaku.
“Yooooona, aku tidak tuli.”
“Iyaaa. Aku tauu. Tapi kamu di panggil gak denger-denger”
Volumenya semakin mengeras . mengalahkan suara speaker yang di bunyikan oleh
guru BP tiap menghukum siswa yang telat.
“kamu biasa aja deh Yoon.” Kataku sambil mendengus dengan
nada bicara yang mulai stabil. Ck
Kami memasuki gedung sekolah yang mulai menua dan lusuh,
menelusuri lobi yang di kanan kirinya terdapat majalah dinding yang kurang terawat.
“kamu keliatan cantik kalo lagi marah.” Rayunya dengan
wajah sumringah dan tawanya yang mulai menjadi-jadi.
“Jadi menurutmu selama ini aku jelek ?”
“bukan gitu maksudku.” Ia memanyunkan bibirnya. “ Eh,
gimana kabar Ibumu, udah sembuh ? aku kangeeen banget sama kamu Dy.
Walaupun Cuma dua hari kamu gak masuk
sekolah, rasanya sudah dua tahun aku gak
ketemu.”
“kamu brisik banget sih.” Gertakku lagi. Segera aku
menempatkan diri di kursi baris kedua dari depan. Posisi favoritku. Di kelas
baru, Buku baru, Beberapa guru dan wajah-wajah baru.
Hmmm…per favore.
Kini aku tidak lagi disebut “first year student” karna kini , aku menempati posisi di kelas XI
IPA 1. Ajib.
“Mody. Aku duduk di belakangmu ya. Biar sama seperti
waktu kita kelas satu atau waktu kita masih menyandang gelar first year
student.” Suara centil itu kembali membanjiri di setiap sudut telingaku.
Tiba-tiba penyimpanan memori jangka panjang (long term memory) yang terletak di otak sebelah kanan itu kembali menampilkan slide memalukan sepanjang
sejarah hidupku yang selama ini telah di simpan di dalam korteks
serebral tepatnya di hippocampus . Bernostalgia dengan kenangan satu tahun silam. Tepat
saat berada di bangku kelas 10.
Kejadian
itu bermula ketika berlangsungnya English lessons pukul 10.00 WIB. Situasi saat
itu sedang lengang karena hampir semua siswa menderita penyakit Narkolepsi
yang merupakan penyakit kebalikan dari penyakit Insomnia. Hal ini di karenakan
adanya kelainan neourologis ( menyerang otak dan syaraf) kronis yang melibatkan
system saraf pusat tubuh serta ditandai dengan rasa kantuk
yang berlebihan dan ingin terus tidur dalam jangka waktu sesering mungkin.
Mungkin
hanya Yoona yang menderita penyakit insomnia dan tahan banting menghadapi guru
bahasa inggris yang tergolong mahluk halus itu. Bayangin aja , dari cara beliau
berjalan, berbicara bahkan sampai kulitnyapun serba halus. Sehalus tepung
beras.
“Mody. Di lehermu ada kutunya.”
Sambar Yoona yang saat itu memposisiskan diri di belakangku.
Gemuruh hati yang semakin
menggebu-gebu. Di iringi gelak tawa dua puluh empat kepala beserta tangan, kaki
dan tubuhnya. Perlahan aku menggulirkan kepala 90ͦ, dengan bola mata sebesar
bola basket dan wajah yang kurasa mulai memerah. Aku mengusap leher dan
membuang kotoran hitam- yang sebenarnya bukan kutu, lantas menatap tajam matanya.
Seperti
pertempuran batin yang berlangsung sengit , bagaikan bom atom pada perang dunia
II atau rudal yang siap memuntahkan pelurunya ke wajah perempuan bermata sipit
itu. Berharap agar angin tornado
menerjang dan menerbangkan sebongkah kotoran kebo Bule pada perayaan Suronan kearahnya.
Butuh
waktu lama bagiku untuk melupakan rasa jengkel yang di sebabkan Yoona. Ya, aku tau itu bukan cara yang baik untuk
memulai semester. Bahkan, aku tidak habis pikir
kenapa ia tidak pernah bosan mengganggu hidupku. Mencampuri segala hal
tentangku bahkan yang sekecil partikel atom sekalipun.
“Yoona.
Diem.” Kataku sambil memukul meja kayu di hadapannya seraya berharap ia segera
menyadari kesalahannya. Tapi tidak, ia hanya menyunggingkan bibirnya beberapa
centimeter saja. Sial.
Aku
merunduk malas karena capai setelah perjalanan panjang dari kampung halaman.
Kepalaku nyaris menyentuh permukaan meja, memperhatikan coretan tinta yang di
torehkan perlahan-lahan oleh jari-jari pada white board. Guru di depan kelas
mengoceh tanpa henti sejak tadi.
Kuarahkan
pandanganku keluar ruangan. Lewat pintu kiri terlihat pucuk pohon mangga yang
sangat kuhapal karena buah mangga yang kulirik sejak ia masih bayi kemudian
menjadi remaja dan kini telah dewasa. Warna orange yang melapisi ujungnya
membuatku tertarik untuk menikmati setiap butir rasa manis dan asam yang beradu
dalam satu.
“Hallo.
Mody. Kamu dengar tidak dari tadi saya ngomong apa ! ” suara itu membuyarkan
lamunanku sejak setengah jam yang lalu.
“Maaf
bu.” Kataku dengan senyum yang penuh keterpaksaan.
“jangan
di ulangi lagi. Anak-anak,sekarang buka bab pertama LKS kalian. Dengan tanpa
suara dan aku pastikan anak yang membuat brisik dia akan mendapatkan skors
sebelum dia menutup mulutnya, paham ? ”
Bu
Ratih,guru tergalak dan yang paling murah dengan senyum sinisnya. Dengan
panjang lebar ia menjelaskan tentang seluk beluk penokohan, lattar, setting dan
plot yang kurasa setiap tahun hanya itu yang menjadi booming dalam pembahasan.
Suara yang merdu alias merusak dunia bagaikan melodi bernuansa rock yang sebenarnya tidak begitu bisa ku
mengerti. Atau seperti kicauan seribu burung yang di tangkar dalam satu tempat.
Menghembuskan
napas panjang dan semangat.
***
Tet
…tet…
Terdengar
suara bel yang menunjukkan waktu istirahat telah tiba.
“oke,
kuliah hari ini sampai di sini saja.” Tidak lama kemudian Bu Ratih mengakhiri
racauannya. Kugulingkan pandanganku ke belakang. Tepat di meja Yoona. Tampak
jelas bahwa ia telah tertidur pulas di balik lembaran-lembaran buku paket
bahasa indonesia dengan pipi yang beralaskan telapak tangan.
Menyedihkan,
memang. Terkadang, aku berduka ketika mengingat bahwa siswa yang sedang belajar bersifat pasif , menerima apa saja yang
diberikan guru, menambah
pengetahuan dengan menggunakan otak kiri yang cenderung tidak permanen dan
membosankan, menghadiri, mendengar dan mencatat penjelasan guru, serta menjawab
secara tertulis soal-soal yang diberikan saat berlangsungnya ujian. tanpa
diberikan kesempatan untuk membangun diri sendiri dengan pengetahuan yang
dibutuhkan dan diminatinya. Sebagian besar.
Seperti
pisau bermata dua, bagi orang tertentu metode itu berhasil, tapi bagi orang
tertentu lainnya, itu adalah pembunuh masa depan.
“Yoona,
bangun.” Kataku dengan sedikit menggoyangkan lengannya.
“Loh.
Gurunya mana ?” Ia terlihat kebingungan. Perlahan ia mengusap tepi hidungnya,
mengedarkan pandangan dan sesekali membereskan rambut yang tergerai tak
beraturan.
“Ini
udah istirahat. Makannya jangan tidur mulu. Inget tugasmu sebagai pelajar.”
Kataku sambil beranjak meninggalkannya di tempat semula. Berjalan menuju
balkon.
“Siapa
yang mau mangga ?” triakku dengan harapan semua orang akan merespon.
“Mana
mangganya ? gue minta dong Dy.” Jawaban yang dilontarkan oleh sebagian besar
penghuni kelas. Seperti gula diantara seribu koloni semut.
“Gini.
Kita bagi tugas. Kamu, kalian berdua dihalaman sana. Dan kalian, lepas semua
sepatu kalian.” Jelasku memberi intruksi. Pasukan kuambil alih. Semua telah
menempatkan diri di posisi masing-masing. Dari depan kelasku yang bertepatan di
lantai dua, tempat yang paling strategis dan yang paling dekat dengan sasaran.
“Lempar….Lempar…
Yang di bawah, jangan lupa sepatunya dikumpulin.”
“Mody.
Nglemparnya yang bener dong byar mangganya cepet jatuh.”
“Plak…”
suara sepatu milikku yang jatuh tepat di punggung salah seorang primadona
dimataku.
“Aduh,
mampus nih. Eh, semuanya sembunyi.orang ganteng mau marah.” Dengan mata yang
sedikit mengintip dan badan yang ku sembunyikan di punggung balkon, aku
menatapnya. Lama.
Terlihat
jelas wajah yang mulai merah merona menatap di setiap sisi dan berharap
menemukan tersangka pelempar sepatu (aku). Beberapa detik kemudian, ia mulai
berjalan meninggalkan halaman bersama sepatu di tangan kanannya.
oh,
tak henti hentinya aku terpesona oleh wajah tampan itu. Senyumnya cukup manis
dan amat cukup untuk bisa mengganjal mata ini agar tidak berkedip sedetikpun.
Dia Josephin. Dengan bunyi “e” seperti kata tempe, bukan “e” pada kata seni.
Tapi aku biasa memanggilnya Piphin. Nama yang sebenarnya terinspirasi yang
kemudian teradaptasi lalu menjadi terasi, eh salah maksudnya termodivikasi dari
salah satu pemain dalam film A Crazy Little things called love yang telah
kutonton sebanyak tiga kali tanpa ada kata “boring”, dan ini kupersembahkan
sebagai tanda bahwa dia termasuk daftar orang spesial di hidupku.
***
Di
sekolah kami, kantin Moro Marem adalah tempat nongkrong dan makan paling asyik.
Serius.
Kantin ini tidak pernah sepi dari obrolan, derai tawa, dan alunan musik yang
bermacam-macam. Tergantung siapa yang sedang menguasai radio pada jam
istirahat.
Di
sebuah halaman terbuka, di sisi taman belakang yang di penuhi oleh rimbunan
pohon kantil dan meja-meja kayu dengan payung yang merekah di atasnya. Pas
untuk porsi empat orang.
“Mody.
Nih aku bawain White Coffee. Enak kog, tidak bikin kembung.” Ujar Yoona yang
tiba-tiba muncul dihadapanku. Kalau kataku dia adalah penjelmaan jelangkung,
datang tak di jemput, pulang tak di antar. Atau lebih parah dari itu, datang
tiba-tiba, pergi tiba-tiba.
“Tumben
kamu baik. Abis kejatuhan meteor ya?”
“Lucu
banget kamu Dy.kan udah dua hari kita gak ketemu, jadi ini adalah tanda “welcome”
untuk kedatanganmu di sekolah. kan kita FRIEND.” Dia menedipkan sebelah matanya.
“Apa
? friend ? maaf ya Yoon, aku tidak suka dengan sikapmu yang suka ceplas ceplos
and egoismu itu. Terus, makasih buat coffenya, walaupun sebenarnya aku gak suka
coffee beserta keturunan dan saudara-saudaranya.”
Sembari
menikmati setiap tegukan kopi hangat dan semilir angin yang berhembus siang itu,
terselimuti awan hitam dengan meninggalkan bintik-bintik air. Aku terhanyut ke
dalam fatamorgana yang menampilkan wajah Piphin yang terus menerus memenuhi
otakku.
Ditemani
kicauan Yoona yang tak henti hentinya menceritakan keluh kesahnya pada liburan
kemarin. Layaknya dongeng sebelum tidur, tapi gak nyambung. Bagaimana tidak,
dia selalu membahas artis-artis korea yang menurutku semuanya berwajah kembar.
Dan paling banter aku hanya akan menanggapinya “owh, aku gak tau.” Jika tidak,
ia hanya akan membahas persengketan lahan ataupun tingkat UMR (Upah Minimum
Regional) beberapa daerah di Jawa Tengah.
“Eh,
Mody. Ada Piphin tuh. Kayaknya mau kesini.” Kugulingkan wajahku kesamping.
Sontak, aku menyemburkan kopi yang memenuhi mulutku di baju Yoona. Tanpa
menggubris ekspresi atau rasa jengkel dari wajahnya, dengan sigap aku berdiri
dan memberikan sebungkus tisu di pangkuan Yoona.
Tampak
jelas laki-laki itu berjalan kearahku dengan membawa sepatu di tangan kanannya.
Bersama rasa gugup yang mulai membahana dan degup jantung yang mulai liar, aku
mengatur napas.
“Dy,
kamu tau ini sepatu siapa ?”
“Emmm…kayaknya
aku gak tau.”
“Loh,
itukan sepatu barumu Dy, yang kamu beli waktu liburan kemaren. Kog dia sih yang bawa ?” sahut Yoona
dengan suara lantang penuh dosa. Aku hanya terdiam, mengeluarkan jurus Tampang
Blo-on (TaBlo).
Tatapan
curiga mulai mengarah ke kakiku.
“Maaf.
Aku tadi tidak sengaja waktu mau ngambil mangga.” Tak ada jawaban yang keluar
dari mulutnya. Kulihat Piphin mencari-cari keberadaan mangga yang ku maksud.
“Kalau
tidak keberatan, aku akan mencucikan bajumu dan ku kembalikan besok. Sebagai
permohonan maafku. ”
“Gak
usah. Nih sepatumu.” Katanya datar.
Tidak
seperti yang kuharapkan, dia langsung pergi kedalam kelas. Walaupun kita memang
satu kelas, tapi dia tetap kaku terhadapku. Tak terasa mata ini panas. Dan dia
menghilang.
“kamu
udah gila ya Yoon. Udah puas permaluin aku kayak gitu ?sekarang dia semakin
benci sama aku. ”
“Lho,
kog aku ? emang benerkan itu sepatumu.”
Segera
aku beranjak meninggalkan Yoona dengan kumpulan kalimat protesnya. Damn.
***
“Woy.”
Ini
bukan suara Yoona. dengan mata kembali menyipit menghindari terpaan sinar
matahari yang mulai menerobos diantara celah-celah awan hitam. Aku berjalan
mengedarkan pandangan. Mencari sumber suara yang baru saja terdengar menyapa hangat.
“kenapa
lo ?” aku tersentak. Ternyata suara tadi benar-benar bukan Yoona. Duduk-tak
jauh dariku. Ardhea. Dia adalah sahabatku sejak satu tahun lalu, walaupun
sekarang kita berada di kelas yang berbeda.
Aku
menatapnya lebih detail. Rambut pendeknya terlihat stylish dengan tambahan poni ke samping yang agak
panjang. Dengan tato semi permanen yang terukir di atas lengan tangan kanannya.
“No
thing. Biasa Yoona membuat ulah lagi.”
“Pasti
ada hubungannya dengan Phin kan ?.” Tak ada jawaban.
“Balik
yuk. Jam kosong nih.” Lanjutnya dan berakhir
pada sebuah jalan setapak.
Satu
hal, Naik turunnya hidup membuatku sadar bahwa hakekatnya kita semua sama,
semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal ini membuatku
menyadari bahwa di dunia ini tak ada orang buruk, adanya orang yang tersesat
dalam keburukan. Semuanya tergantung pada bagaimana kita menyikapi sikap itu.
Seperti
halnya malaikat dan setan, dua elemen yang berbeda namun tak dapat di pisahkan.
Istilah Black Angel memang tepat untuk sosok Yoona. menjengkelkan tapi di balik
sikap hitam itu terdapat malaikat kecil dengan hati polosnya. Manusia memang
terkadang baik kadang pula kurang baik asal jangan kurang ajar !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar