Perubahanpun dimulai.
Pukul
sembilan pagi. Lambat laun, mata ini mulai berkaca-kaca, sembari mengingat
kejadian pada 31 Agustus lalu. Masih teringat jelas dibenakku akan sebait
kalimat yang mempunyai beribu makna.
“Ibu,
bapak, Niki minta maaf..... ”. Andai waktu berhenti saat itu dan selamanya,
mungkin aku adalah orang yang paling bahagia.
Tapi tidak.
Pikirku benar-benar vacum. Samar-samar aku melihat bayangan yang entah berjalan
kedepan atau kebelakang.
Tiba-tiba.
Hwussh......Angin
segar langsung menerpa wajahku yang masih kusam. Dikejauhan, aku melihat
seorang gadis dengan baju coklat pekat dipadu dengan rok dan jilbab hitam.
Sebut saja Eya.dia teman baikku, atau lebih tepatnya kusebut dia sahabat.kami
sudah berteman sejak satu tahun yang lalu. Bersama lagu BUNDA yang dipopulerkan
oleh Melly Goeslow,dengan perlahan langkahnya mendekati rumah tempat aku
berdiri saat ini.seraya memecah lamunanku dalam hitungan detik.
“Niki.....”
Suaranya memanggil namanku. Nama yang menurutku cujup familiar, mengingat
seorang artis muda tampan yang bernama Niki Tirta.
“Dari mana
kamu ? Tumben udah rapi.” Kataku mengintrogasi.Maklumlah dia adalah cewe yang
hobi malas-malasan, tapi paling rajin klayapan. Sembari tersenyum, dia
berbisik.
“Inikan
hari libur. Jadwal maen kita. Kamu cepet mandi, trus kita maen kewarnet”
“Kamu gak
inget, hari ini OSIS ngadain rapat. Jadi kita gak bisa maen.Lagian aku
sekretaris, masak mau bolos ? kamu juga bendaharakan.” Gertakku dengan itonasi
tinggi dan mata yang mulai memerah.
“Yah...Nik,
males nih. Lagian aku juga lagi pusing.” Sahutnya dengan nada santai. Entah apa
yang dia pikirkan, yang pasti aku tidak ingin kena marah. Alasan demi alasan
kulontarkan agar Eya menuruti celotehku, walaupun akhirnya dia hanya
menunjukkan reaksi wajah yang kusm dan kusut gak ketulungan. Tapi no problem.
Kurasa, keadaan ini baik-baik saja.
Siang yang
cerah. Langkah kaki mengantarkan kami menuju kesebuah gubuk kecil nan mewah.
Tertulis sebuah nama dengan grafiti nan tersusun rapi. FINDENET. Itulah salah
satu tempat yang ingin kami kunjungi. Tempat dimana muda mudi Facebookan, buka
youtube, ngegames dan semua yang berbau dengan internet.
Tiba-tiba
terdengar suara taw aseorang laki-laki yang tidak asing lagi di telinga kami.
Bergegas kami berjalan mencari asal suara itu.
Gubrak....Terlihat
jelas dimata kami sosok laki-laki berkulit langsat dan tatann rambut yang
bergaya layaknya Emo style. Laki-laki itu Danu. Seperti yang telah kuketahui,
bahwa Danu adalah teman dekat Eya. Lebih tepatnya kusebut TTM. Namun hari ini
terasa lain. Aku melihat satu wajah yang terlalu asing dimataku. Tapi dia cukup
keren.
“Eh...Kamu
ngapain disini ?” Ujar Eya penasaran.
“Ya
ngenetlah,mau ngapain lagi. Kamu juga ngpain disini ?” Balas Danu.
“Ada deh....Oya,
tumben si Narito maen kesini ?” Cibir Eya pada sosok laki-laki yang duduk
disamping Danu. Dia biasa dipanggil Naruto. Walaupun nama aslinya adalah Tomi
El-athan. Mungkin, karena sifatnya sebagai penggila kartun Naruto.
Bahkan, aku
baru teringat bahwa Tomi adalah teman satu kelasku. Wajar saja, aku lebih
memeilih mengunci mulut dihadapan teman-temanku dari pada banyak tingkah.
Peranyaan
demi pertanyaan tentang Tomi mulai muncul di benakku. Mata ini berputar menatap
setiap garis diwajahnya. Namun percuma. Wajahnya tetap asing. Bahkan ketika aku
melangkahkan kakiku untuk meninggalkannya.
“Nik, Danu
ngirim pesen tuh. Coba kam dibaca”
“Eya....Aku
mau ngomong sama kamu. Penting banget. Kamu kebilikku ya, nanti Tomi yang bakal
nemeni Niki. Please” Renge Danu dalam pesan itu.
Sedih dan
senang aku dan Eya rasakan. Dasar cowo manja. Aneh-aneh aja pintanya. Mengingat
Eya yang tak sampai hati menolah permintaan itu, langkahnya segera
meninggalkanku.
Tiba-tiba,
kurang dari 5 menit, dia datang. Satu diantara sejuta wajah yang membuatku
penasaran. Sesosok laki-laki berbaju putih dipadu warna hitam diujung
lengannyadan dilapisi jaket hitam keabu-abuan dengan hiasan jam ditangannya.
Dia disampingku, semuanya masih terasa kaku. Hingga dia melontarkan satu kata
yang memulai percakapan kami saat itu.
“Hay.....”
Sapanya dengan penuh keramahan. “Kamu ngapain disini ?” lanjutnya.
“Sekedar
maen. Inikan hari libur” Balasku menjelaskan. Detik demi detik berlalu. Kalimat
demi kalimat saling kami lontarkan. Walaupun kami yang awalnya saling diamyang
pada akhirnya mampu tertawa panjang. Mungkin ini adalah hari yang paling
membahagiakan dalam hidupku. Hari dimana aku mulai mengenal seorang Tomi
El-Fathan. Cowo paling keren sejagad. Pasti kau menganggapku beruntung. Ya, aku
juga berfikir begitu, sampai peristiwa itu berakhir pulkul 19.00 WIB. Sesegera
mungkin aku kembali kegubuk kecil yang biasa kusebut kos. Tempat dimana aku
bersama Eya dan lima orang lainnya bertempat tinggal selam dua tahun terakhir
ini.
Kutengokkan
kepalaku kekanan dan kekiri, melihat keadaan sekitar. Penghuni kos telah
berkumpul didepan TV. Kecuali Alian dan Rara. Mereka baru datang 10 menit yang
lalu. Tidak berbeda.
“Dari mana
kalian ? Jam segini baru pulang.” Gertak salah satu anggota kos yang menurutku
pali berkuasa, paling judes dan paling caper.
“Jalan-jalan”
Jawbku cuek.
“Lagian
inikan hari libur. Apa kita harus berdiam terus dikos ?” Tambah Eya.
“Taoikan
bisa pulang lebih awal. Gak jam segini”
“Cuma kita
? Bagaimana dengan lian dan Rara . kenapa mereka gak dimarahi ? kenapa kamu
biarin mereka santai-santai ? owh, apa karena mereka sudah sering terkena
masalah ?” Kataku membela. Raut wajahku mulai memerah, mataku melongo, tanganku
mengepal dengan bibir yang mulai bergetar seakan tak sanggup lagi menjawab
ucapannya.
Waktu
berlalu. Sesegera mungkin aku dan Eya beranjak dari tempat itu. Seluruh pasang
mata menatap kami. Entahlah. Anggap itu sebagai angin lalu. Memang perlu
kuakui, itu adlah hal onyol dalam hidupku. Tapi bukan itu niatku, menjadi
seorang yang bandel dan nakal. Aku Cuma ingin menenangkan pikiran dan mencari
pengalaman. Maklumlah terkadang aku membutuhlan suatu kenakalan demi mendapatka
makna hidup yang sebenarnya. Seperti yang kuketahui, pengalaman adalah guru
terbaik.
Kutengadahkan
kepalaku kearah langit-langit kos sambil sesekali membetulkan bantal. Aku
menghembuskan nafas panjang, lalu mulai bersenandung kecil, berharap rasa tak
enak dihatiku berangsur menghilang. Mengingat tragedi minggu, 6 hari yang lalu.
Kupikir ini semua akan baik-baik saja. Walaupun keadaan kamar masih terasa
tegang. Kubiarkan tubuh mungilku bersandar diatas ranjang.
Perlahan
aku membuka mata dan mengingat-ingat bahwa hari ini adalah hari minggu. Hari
dimana aku dan Eya sudah berjanji kepada Tomi dan Danu untuk menemuinya di
Findenet.
Hari ini
sudah mulai panas. Sesegera mungkin aku dan Eya berdandan gaya tubrak tubruk
ala Jepang, walaupun sebenarnya terkesan acak-acakan. Aku sudah cerita, belum ?
aku dan Eya memanglah orang yang tidak mudak kapok, nekat dan hobi klayapan.
Lima belas
menit kami menyusuri jalan. Aku berharap kami tidak perlu menunggu lama dibilik
warnet. Kulirik satu bilik dan bilik lainnya. Disudut kanan ruangan itu
terduduk dua laki-laki dengan baju berlengan pendek dan berpenampila eye-catching
untuk membuat semua orang melirik padanya.
“Udah lama
nunggu disini ?” Seru Eya pelan.
“Rumayan.
Udah satu jam.” Gumam Danu lirih. Tiba-tiba Tomi berdiri tegak disampingku.
“Kebilik
sana aja yuk” Ujar Tomi. Aku mengikuti langkahnya. Sepanjang pembicaraan kami
berlangsung, aku merasakan sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Dia perhatian
and tanggung jawab. Entah apa yang sedang aku rasakan. Yang ada di otakku saat
ini adalah kenyataan cowok yang ada didekatku adalah cowok yang mampu memenuhi
kebutuhan batiniahku. Aku kembali menghela napas panjang. Dia mendekatiku,
membisikkan sti kata yang penuh makna. Yaitu CINTA.
“Kamu mau
gak jadi ceweku ?” Bisiknya ditelingaku.
Dek....Aku
tercengang mendengar ungkapan itu. Aku seakan melayang. Layaknya perkataan
Einstein yang mengungkapkan bahwa hukum gravitasi tidah berlaku bagi orang yang
sedang jatuh cinta, itulah yang sedang aku rasakan.
Sungguh,
sesuatun yang tidak pernah terlintas sedikitpun dibenakku. Mulai hari ini, hari
minggi 10 september, aku resmi menjadi kekasihnya. Kekasih Tomi El-Fathan.
Waktu
berlalu, dan jarum pendek jam sudah menunjukkan angka delapan. Kelihatan lama
namun terasa singkat di benakku. Waktu yang singkat untuk melewati hari bersama
kekasih.
Tanpa
berbasa-basi dan dengan perasaan khawatir yang menyelimuti hatiku malam itu,
aku melangkah menuju pintu kos.
Dengan
hitungan detik, seluruh pasang mata menatap kami dengan sinis. Seolah-olah kami
hendak masuk kedalam kandang singa yang siap menyantap dan habis dalam hitungan
detik. Suasana kamar kembali memanas. Pernyataan yang ku dengar 6 hari yang
lalu itu kembali dilontarkan. Brisik banget.
Okelah,
menghabiskan hari libur dengan kekasih dan tanpa mengenal waktu adalah hal yang
semua cewe disinetron lakukan. Akhirnya ? aku dan Eya dimarahi anak kos.
Apalagi aku, anak kos yang selama ini menganggapku salh satu cewe tang patuh
pada aturan, kini hilang. Bahkan kami dicap lebih buruk dari –ada cewek-cewek
yang bahkan satu hari penuh menginap dirumah teman laki-lakinya. Dianggap lebih
bandel dari pada cewek-cewek yang suk klabing, main kartu dan nonton konser
sampai jam 1 malam, yang nggak pernah berhenti mengumbar-umbar kenakalannya
didepan anak kos bagaikan sedang menceritakan dongeng sebelum tidur. Paling
caper dan paling pinter merangkai kata-kata busuk pada orang lain.
Intinya,kami
dianggap lebih kacau dari pada orang-orang yang langganan terkena kasus serupa.
Hal ini lucu, karena begitu aku dan Eya yang melakukan, seolah seluruh
perbuatan teladan kami hilang begitu saja. Semua cewek ( yang memang sejak awal
sudah dicap anak bermasalah) malah tak terlalu dipersoalkan karena dianggap
sudah biasa.
Kami bukan
mencari pembenaran. Kami tahu ini adalah kesalahan. Tapi tolonglah, yang
kulakukan bukan sesuatu yang bisa membuat anak kos menuduh kami “salah
pergaulan.”
Sungguh
tuduhan yang sangat tidak beralasan. Dan yang membuatku lebih malu lagi,Fani
sepupu Tomi yang satu kos denganku itu ikut menyidang. Dia didepanku. Bahkan
kabar tentang Tomi sebagai kekasihku itu sudah menyebar sampai ketelinganya.
Okelah,
dicap buruk oleh anak kos memang bukan hal kecil. Tapi, dilihat dari keadaan
burukku bersama Tomi, itu JELAS bukan hal kecil.
“Tari nafas
dalam-dalam, lalu yakinkan diri sendiri.” Kataku untuk meyakinkan bhwa semua
akan baik-baik saja, mengingat mulai adanya desas-desus tentang aku dan
Eya.Entah untung apa yang mereka dapat dari omong kosong yang mereka keluarkan.
Entah pahala apa yang mereka dapat dari fitnah yang telah mereka lontarkan pada
semua orang di kos ini, negara ini atau bahkan planet ini. Bahkan si cewe super
caper dan super nyebeliyang biasa di panggil Alian dan Rara itu telah membuat
dunia ini membenci aku dn Eya. Terkecuali Tomi dan Danu. Dua cowok yang mungkin
akan setia menerima kami dalam suka dan duka. Sungguh tragis.
Aku
mengangkat bahu. Berfikir sejenak tentang kesalahanku. Hingga berbagai
pertanyaan mulai muncul diotakku. Mengapa mereka setega itu ? Apakah kami
pernah ikut campur pada masalah mereka ? Apakah kami pernah menjelek-jelekkan
mereka ? Bahkan, sebegitu teganya mereka berkata “ Kelihatannya baik, ternyata
busuk.” Sekacau itukah kami dimata mereka ? sebejad itukah kami dibenak mereka
? Ayolah, semua orang pernah melakukahan kesalahan. Jadi, jangan hanya
menjelek-jelekkan kami sementara kalianpun tidak lebih baik dari aku dan Eya.
Entahlah, yang aku tau bahwa selama
ini aku dan Eya tak pernah dan tak akan mengganggu hidup mereka. Karena
mengalah bukan berarti kalah.
Dan itu hampir membuat kesabaran
dan rasa cuekku hilang. Beberapa kali desas-desus itu mereka lontarkan. Kalimat
demi kalimat busuk mereka rangkai dengan amat rapinya yang seakan ingin
membunuh kami dengan perlahan.
Memang kuakui, mengambil simpati
dari anak koa tidak akan sesulit memulihkan nama baikku didepan Fani. Aku
mendengus dalam keheningan. Terhanyut dalam lamunan.
Seberapa dosakah aku dan Eya hingga
kata maafpun sungguh sulit untuk diucapkan. Walaupun sebenarny kami tak
berharap banyak mereka akan melontarkan satu kata itu. Karena yang terpenting
adalah kata maaf dari Fani, Tomi, Danu dan our parents.
Bahkan dan hingga senyumpun
bagaikan benda keramat yang sulit ditemukan. Walaupun sebenarnya senyuman dari
Tomi, Danu dan Orang tua sudah cukup untuk menghangatkan 1000 musim dinginku.
Teman, hanya kata maaf yang mampu
kami ucapkan. Bukan maksud kami mengecewakan. Cobalah kita mengintropeksi diri
sendiri. Hanya nsehat dan dukungan yang kami butuhkan disaat ombak samudra
menderam. Bukan sebuah gunjingan dan dikucilkan. Permintaan terakhirku, izinkan
aku dan Eyan tersenyum diatas ganasnya badai kehidupan.
Terimakasih Eya, Danu dan
terimakasih Tomi yang sampai saat ini selalu menghadirkan senyum kehangatan
untukku. Senyum yang membuatku hidup sampai detik ini, dan selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar