Selasa, 11 Juni 2013

izinkan aku tersenyum




Perubahanpun dimulai.
            Pukul sembilan pagi. Lambat laun, mata ini mulai berkaca-kaca, sembari mengingat kejadian pada 31 Agustus lalu. Masih teringat jelas dibenakku akan sebait kalimat yang mempunyai beribu makna.
            “Ibu, bapak, Niki minta maaf..... ”. Andai waktu berhenti saat itu dan selamanya, mungkin aku adalah orang yang paling bahagia.
            Tapi tidak. Pikirku benar-benar vacum. Samar-samar aku melihat bayangan yang entah berjalan kedepan atau kebelakang.
            Tiba-tiba.
            Hwussh......Angin segar langsung menerpa wajahku yang masih kusam. Dikejauhan, aku melihat seorang gadis dengan baju coklat pekat dipadu dengan rok dan jilbab hitam. Sebut saja Eya.dia teman baikku, atau lebih tepatnya kusebut dia sahabat.kami sudah berteman sejak satu tahun yang lalu. Bersama lagu BUNDA yang dipopulerkan oleh Melly Goeslow,dengan perlahan langkahnya mendekati rumah tempat aku berdiri saat ini.seraya memecah lamunanku dalam hitungan detik.
            “Niki.....” Suaranya memanggil namanku. Nama yang menurutku cujup familiar, mengingat seorang artis muda tampan yang bernama Niki Tirta.
            “Dari mana kamu ? Tumben udah rapi.” Kataku mengintrogasi.Maklumlah dia adalah cewe yang hobi malas-malasan, tapi paling rajin klayapan. Sembari tersenyum, dia berbisik.
            “Inikan hari libur. Jadwal maen kita. Kamu cepet mandi, trus kita maen kewarnet”
            “Kamu gak inget, hari ini OSIS ngadain rapat. Jadi kita gak bisa maen.Lagian aku sekretaris, masak mau bolos ? kamu juga bendaharakan.” Gertakku dengan itonasi tinggi dan mata yang mulai memerah.
            “Yah...Nik, males nih. Lagian aku juga lagi pusing.” Sahutnya dengan nada santai. Entah apa yang dia pikirkan, yang pasti aku tidak ingin kena marah. Alasan demi alasan kulontarkan agar Eya menuruti celotehku, walaupun akhirnya dia hanya menunjukkan reaksi wajah yang kusm dan kusut gak ketulungan. Tapi no problem. Kurasa, keadaan ini baik-baik saja.
            Siang yang cerah. Langkah kaki mengantarkan kami menuju kesebuah gubuk kecil nan mewah. Tertulis sebuah nama dengan grafiti nan tersusun rapi. FINDENET. Itulah salah satu tempat yang ingin kami kunjungi. Tempat dimana muda mudi Facebookan, buka youtube, ngegames dan semua yang berbau dengan internet.
            Tiba-tiba terdengar suara taw aseorang laki-laki yang tidak asing lagi di telinga kami. Bergegas kami berjalan mencari asal suara itu.
            Gubrak....Terlihat jelas dimata kami sosok laki-laki berkulit langsat dan tatann rambut yang bergaya layaknya Emo style. Laki-laki itu Danu. Seperti yang telah kuketahui, bahwa Danu adalah teman dekat Eya. Lebih tepatnya kusebut TTM. Namun hari ini terasa lain. Aku melihat satu wajah yang terlalu asing dimataku. Tapi dia cukup keren.
            “Eh...Kamu ngapain disini ?” Ujar Eya penasaran.
            “Ya ngenetlah,mau ngapain lagi. Kamu juga ngpain disini ?” Balas Danu.
            “Ada deh....Oya, tumben si Narito maen kesini ?” Cibir Eya pada sosok laki-laki yang duduk disamping Danu. Dia biasa dipanggil Naruto. Walaupun nama aslinya adalah Tomi El-athan. Mungkin, karena sifatnya sebagai penggila kartun Naruto.
            Bahkan, aku baru teringat bahwa Tomi adalah teman satu kelasku. Wajar saja, aku lebih memeilih mengunci mulut dihadapan teman-temanku dari pada banyak tingkah.
            Peranyaan demi pertanyaan tentang Tomi mulai muncul di benakku. Mata ini berputar menatap setiap garis diwajahnya. Namun percuma. Wajahnya tetap asing. Bahkan ketika aku melangkahkan kakiku untuk meninggalkannya.
            “Nik, Danu ngirim pesen tuh. Coba kam dibaca”
            “Eya....Aku mau ngomong sama kamu. Penting banget. Kamu kebilikku ya, nanti Tomi yang bakal nemeni Niki. Please” Renge Danu dalam pesan itu.
            Sedih dan senang aku dan Eya rasakan. Dasar cowo manja. Aneh-aneh aja pintanya. Mengingat Eya yang tak sampai hati menolah permintaan itu, langkahnya segera meninggalkanku.
            Tiba-tiba, kurang dari 5 menit, dia datang. Satu diantara sejuta wajah yang membuatku penasaran. Sesosok laki-laki berbaju putih dipadu warna hitam diujung lengannyadan dilapisi jaket hitam keabu-abuan dengan hiasan jam ditangannya. Dia disampingku, semuanya masih terasa kaku. Hingga dia melontarkan satu kata yang memulai percakapan kami saat itu.
            “Hay.....” Sapanya dengan penuh keramahan. “Kamu ngapain disini ?” lanjutnya.
            “Sekedar maen. Inikan hari libur” Balasku menjelaskan. Detik demi detik berlalu. Kalimat demi kalimat saling kami lontarkan. Walaupun kami yang awalnya saling diamyang pada akhirnya mampu tertawa panjang. Mungkin ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Hari dimana aku mulai mengenal seorang Tomi El-Fathan. Cowo paling keren sejagad. Pasti kau menganggapku beruntung. Ya, aku juga berfikir begitu, sampai peristiwa itu berakhir pulkul 19.00 WIB. Sesegera mungkin aku kembali kegubuk kecil yang biasa kusebut kos. Tempat dimana aku bersama Eya dan lima orang lainnya bertempat tinggal selam dua tahun terakhir ini.
            Kutengokkan kepalaku kekanan dan kekiri, melihat keadaan sekitar. Penghuni kos telah berkumpul didepan TV. Kecuali Alian dan Rara. Mereka baru datang 10 menit yang lalu. Tidak berbeda.
            “Dari mana kalian ? Jam segini baru pulang.” Gertak salah satu anggota kos yang menurutku pali berkuasa, paling judes dan paling caper.
            “Jalan-jalan” Jawbku cuek.
            “Lagian inikan hari libur. Apa kita harus berdiam terus dikos ?” Tambah Eya.
            “Taoikan bisa pulang lebih awal. Gak jam segini”
            “Cuma kita ? Bagaimana dengan lian dan Rara . kenapa mereka gak dimarahi ? kenapa kamu biarin mereka santai-santai ? owh, apa karena mereka sudah sering terkena masalah ?” Kataku membela. Raut wajahku mulai memerah, mataku melongo, tanganku mengepal dengan bibir yang mulai bergetar seakan tak sanggup lagi menjawab ucapannya.
            Waktu berlalu. Sesegera mungkin aku dan Eya beranjak dari tempat itu. Seluruh pasang mata menatap kami. Entahlah. Anggap itu sebagai angin lalu. Memang perlu kuakui, itu adlah hal onyol dalam hidupku. Tapi bukan itu niatku, menjadi seorang yang bandel dan nakal. Aku Cuma ingin menenangkan pikiran dan mencari pengalaman. Maklumlah terkadang aku membutuhlan suatu kenakalan demi mendapatka makna hidup yang sebenarnya. Seperti yang kuketahui, pengalaman adalah guru terbaik.
            Kutengadahkan kepalaku kearah langit-langit kos sambil sesekali membetulkan bantal. Aku menghembuskan nafas panjang, lalu mulai bersenandung kecil, berharap rasa tak enak dihatiku berangsur menghilang. Mengingat tragedi minggu, 6 hari yang lalu. Kupikir ini semua akan baik-baik saja. Walaupun keadaan kamar masih terasa tegang. Kubiarkan tubuh mungilku bersandar diatas ranjang.
            Perlahan aku membuka mata dan mengingat-ingat bahwa hari ini adalah hari minggu. Hari dimana aku dan Eya sudah berjanji kepada Tomi dan Danu untuk menemuinya di Findenet.
            Hari ini sudah mulai panas. Sesegera mungkin aku dan Eya berdandan gaya tubrak tubruk ala Jepang, walaupun sebenarnya terkesan acak-acakan. Aku sudah cerita, belum ? aku dan Eya memanglah orang yang tidak mudak kapok, nekat dan hobi klayapan.
            Lima belas menit kami menyusuri jalan. Aku berharap kami tidak perlu menunggu lama dibilik warnet. Kulirik satu bilik dan bilik lainnya. Disudut kanan ruangan itu terduduk dua laki-laki dengan baju berlengan pendek dan berpenampila eye-catching untuk membuat semua orang melirik padanya.
            “Udah lama nunggu disini ?” Seru Eya pelan.
            “Rumayan. Udah satu jam.” Gumam Danu lirih. Tiba-tiba Tomi berdiri tegak disampingku.
            “Kebilik sana aja yuk” Ujar Tomi. Aku mengikuti langkahnya. Sepanjang pembicaraan kami berlangsung, aku merasakan sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Dia perhatian and tanggung jawab. Entah apa yang sedang aku rasakan. Yang ada di otakku saat ini adalah kenyataan cowok yang ada didekatku adalah cowok yang mampu memenuhi kebutuhan batiniahku. Aku kembali menghela napas panjang. Dia mendekatiku, membisikkan sti kata yang penuh makna. Yaitu CINTA.
            “Kamu mau gak jadi ceweku ?” Bisiknya ditelingaku.
            Dek....Aku tercengang mendengar ungkapan itu. Aku seakan melayang. Layaknya perkataan Einstein yang mengungkapkan bahwa hukum gravitasi tidah berlaku bagi orang yang sedang jatuh cinta, itulah yang sedang aku rasakan.
            Sungguh, sesuatun yang tidak pernah terlintas sedikitpun dibenakku. Mulai hari ini, hari minggi 10 september, aku resmi menjadi kekasihnya. Kekasih Tomi El-Fathan.
            Waktu berlalu, dan jarum pendek jam sudah menunjukkan angka delapan. Kelihatan lama namun terasa singkat di benakku. Waktu yang singkat untuk melewati hari bersama kekasih.
            Tanpa berbasa-basi dan dengan perasaan khawatir yang menyelimuti hatiku malam itu, aku melangkah menuju pintu kos.
            Dengan hitungan detik, seluruh pasang mata menatap kami dengan sinis. Seolah-olah kami hendak masuk kedalam kandang singa yang siap menyantap dan habis dalam hitungan detik. Suasana kamar kembali memanas. Pernyataan yang ku dengar 6 hari yang lalu itu kembali dilontarkan. Brisik banget.
            Okelah, menghabiskan hari libur dengan kekasih dan tanpa mengenal waktu adalah hal yang semua cewe disinetron lakukan. Akhirnya ? aku dan Eya dimarahi anak kos. Apalagi aku, anak kos yang selama ini menganggapku salh satu cewe tang patuh pada aturan, kini hilang. Bahkan kami dicap lebih buruk dari –ada cewek-cewek yang bahkan satu hari penuh menginap dirumah teman laki-lakinya. Dianggap lebih bandel dari pada cewek-cewek yang suk klabing, main kartu dan nonton konser sampai jam 1 malam, yang nggak pernah berhenti mengumbar-umbar kenakalannya didepan anak kos bagaikan sedang menceritakan dongeng sebelum tidur. Paling caper dan paling pinter merangkai kata-kata busuk pada orang lain.
            Intinya,kami dianggap lebih kacau dari pada orang-orang yang langganan terkena kasus serupa. Hal ini lucu, karena begitu aku dan Eya yang melakukan, seolah seluruh perbuatan teladan kami hilang begitu saja. Semua cewek ( yang memang sejak awal sudah dicap anak bermasalah) malah tak terlalu dipersoalkan karena dianggap sudah biasa.
            Kami bukan mencari pembenaran. Kami tahu ini adalah kesalahan. Tapi tolonglah, yang kulakukan bukan sesuatu yang bisa membuat anak kos menuduh kami “salah pergaulan.”
            Sungguh tuduhan yang sangat tidak beralasan. Dan yang membuatku lebih malu lagi,Fani sepupu Tomi yang satu kos denganku itu ikut menyidang. Dia didepanku. Bahkan kabar tentang Tomi sebagai kekasihku itu sudah menyebar sampai ketelinganya.
            Okelah, dicap buruk oleh anak kos memang bukan hal kecil. Tapi, dilihat dari keadaan burukku bersama Tomi, itu JELAS bukan hal kecil.
            “Tari nafas dalam-dalam, lalu yakinkan diri sendiri.” Kataku untuk meyakinkan bhwa semua akan baik-baik saja, mengingat mulai adanya desas-desus tentang aku dan Eya.Entah untung apa yang mereka dapat dari omong kosong yang mereka keluarkan. Entah pahala apa yang mereka dapat dari fitnah yang telah mereka lontarkan pada semua orang di kos ini, negara ini atau bahkan planet ini. Bahkan si cewe super caper dan super nyebeliyang biasa di panggil Alian dan Rara itu telah membuat dunia ini membenci aku dn Eya. Terkecuali Tomi dan Danu. Dua cowok yang mungkin akan setia menerima kami dalam suka dan duka. Sungguh tragis.
            Aku mengangkat bahu. Berfikir sejenak tentang kesalahanku. Hingga berbagai pertanyaan mulai muncul diotakku. Mengapa mereka setega itu ? Apakah kami pernah ikut campur pada masalah mereka ? Apakah kami pernah menjelek-jelekkan mereka ? Bahkan, sebegitu teganya mereka berkata “ Kelihatannya baik, ternyata busuk.” Sekacau itukah kami dimata mereka ? sebejad itukah kami dibenak mereka ? Ayolah, semua orang pernah melakukahan kesalahan. Jadi, jangan hanya menjelek-jelekkan kami sementara kalianpun tidak lebih baik dari aku dan Eya.
Entahlah, yang aku tau bahwa selama ini aku dan Eya tak pernah dan tak akan mengganggu hidup mereka. Karena mengalah bukan berarti kalah.
Dan itu hampir membuat kesabaran dan rasa cuekku hilang. Beberapa kali desas-desus itu mereka lontarkan. Kalimat demi kalimat busuk mereka rangkai dengan amat rapinya yang seakan ingin membunuh kami dengan perlahan.
Memang kuakui, mengambil simpati dari anak koa tidak akan sesulit memulihkan nama baikku didepan Fani. Aku mendengus dalam keheningan. Terhanyut dalam lamunan.
Seberapa dosakah aku dan Eya hingga kata maafpun sungguh sulit untuk diucapkan. Walaupun sebenarny kami tak berharap banyak mereka akan melontarkan satu kata itu. Karena yang terpenting adalah kata maaf dari Fani, Tomi, Danu dan our parents.     
Bahkan dan hingga senyumpun bagaikan benda keramat yang sulit ditemukan. Walaupun sebenarnya senyuman dari Tomi, Danu dan Orang tua sudah cukup untuk menghangatkan 1000 musim dinginku.
Teman, hanya kata maaf yang mampu kami ucapkan. Bukan maksud kami mengecewakan. Cobalah kita mengintropeksi diri sendiri. Hanya nsehat dan dukungan yang kami butuhkan disaat ombak samudra menderam. Bukan sebuah gunjingan dan dikucilkan. Permintaan terakhirku, izinkan aku dan Eyan tersenyum diatas ganasnya badai kehidupan.
Terimakasih Eya, Danu dan terimakasih Tomi yang sampai saat ini selalu menghadirkan senyum kehangatan untukku. Senyum yang membuatku hidup sampai detik ini, dan selamanya.        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar