Selasa, 11 Juni 2013

Singgasana untuk Ayah Bunda



                                   singgasana untuk ayah bunda
            Kau merasa kecewa hari ini ? Kau merasa kalah hari ini? Kau merasa hidupmu tak sehebat yang kau bayangkan? Tenanglah, hidup memang tak melulu soal kita merasa kalah dan kecewa sesungguhnya merupakan saat-saat terkuat kita.
Kau tak percaya? Izinkan aku bercerita.
"Tuhan, suasana ini membuatku rindu akan kampung halaman?" Suara laki-laki yang sejak 5 menit yang lalu menghentikan langkahnya dan berdiri mematung di sebuah loteng lantai 4. Terpaku menatap setiap sudut alam perkotaan, menjilati lekuk keindahan semburat lembayung fajar yang menghiasi cakrawala sebelah timur.
Walaupun udara dingin menyapa lewat kabut tipis yang lambat laun mulai pudar, laki-laki itu masih tertahan dengan lamunan yang entah berjalan ke depan atau ke belakang. Inilah dia, Fajar Fadhli. Atau biasa dipanggil sebagai Fadhli.
Ya, sejarah anak manusia yang kalah. Orang tua miskin, lingkungan miskin, tidak memungkinkan membangkitkannya menjadi manusia pada umumnya. Inilah sosok Fajar Fadhli yang berasal dari lereng gunung Lawu. Namun, perubahanpun dimulai. Tiba-tiba.
“Bagus ya fajarnya. Seperti namamu."Suara seorang lelaki yang mendadak muncul. Sontak, Fadhli mengarahkan pandangannya ke belakang.
"Yah, seperti namaku. Fajar Fadhli. Fajar yang utama." jawabnya sambil menatap ke arah langit.
"Pernahkah kau mendengar sebait kalimat yang isinya kata adalah cahaya, dan ketika cahaya itu fajar, seluruh penciptaan mewujud. Dulu Ayahku yang memberi nama ini. Dia berharap aku bisa seperti Fajar." lanjut Fadhli menerangkan.
"Aku Ainul. Murid baru disini." ujarnya sambil tersenyum kecil. Wajar saja, empat hari yang lalu adalah hari penerimaan santri baru di Pondok Pesantren itu. Sebuah penjara suci di tengah kota Solo.
"Aku tau. Dan kita seangkatan." Fadhli hanya menjawabnya dengan tawa lirih. "Untuk apa kamu disini, diam dan sendiri menatap fajar itu?" sambung Ainul sambil melangkah mendekati tempat Fadhli berdiri.
"Karena kontour inilah yang selalu membuatku ingat dan rindu akan kampung halaman. Rindu akan hamparan tanah pedesaan di lereng gunung lawu. Dan rindu akan kehangatan keluarga yang tak aku dapatkan selama 3 tahun ini."
"Apakah itu berarti bahwa rumahmu berlantai dua hingga kau  dapat melihat panorama itu?" selidik Ainul.
"Kau salah. Bahkan rumahku lebih indah dari sebuah istana. Karna rumahku berdinding alam, beratap langit, dan berlantai tanah. Mungkin itu pernyataan yang tepat untuk menggambarkan suasana tempat tinggalku. Walau terkadang aku pernah bermimpi untuk memiliki rumah berlantai dua, tapi aku enggan untuk memaksakan kedua orang tuaku melakukan itu. Maklum saja bapakku hanya seorang penjual sawo keliling dan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga." jelas Fadhli dengan nada memelas.
“Oh! Dengan alasan apa kau bisa sampai di Pondok ini. Sedangkan orang tuamu serba kekurangan, padahal biaya untuk bisa nyantri di Pondok ini saja cukup menguras kantong begitu dalam.” Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Fadhli. Suasana kembali hening. Dua insan ini saling mematung menatap lurus ke arah Timur. Sejenak, Fadhli terhanyut dalam lamunan tentang masa lalunya. Masa lalu yang payah.
Pukul 06.30. Lelaki itu kembali memikul dagangannya; dua keranjang besar yang dipenuhi puluhan buah sawo. Bayang-bayang pohon sudah lebih panjang dari dirinya sendiri. Jam dinding di sebuah toko yang baru saja dia lewati menggambarkan bahwa waktu beranjak senja. 14.28, tujuh jam lebih sejak kali pertama lelaki paruh baya itu menginjakkan kaki di seberang pintu rumahnya pagi tadi. Sesiang ini, tak satu buah sawo pun terjual. Dia menyusuri jalan-jalan memasuki liang-liang gang yang sempit dan didapati rumah-rumah penduduk sambil terus berteriak menjajakan dagangannya. “sawo….sawo….sawo….”
Tak seorang pun menyahut. Tak seorang pun memanggil untuk berhenti. Di gang sempit, orang-orang hanya memandang lelaki itu sekilas, seperi berkata pada diri mereka sendiri, “Oh, ada tukang sawo lewat.” Lalu kembali sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Seorang Ibu muda sedang menyuapi anak perempuannya. Pemuda gondrong sibuk mencuci motor barunya, anak-anak kecil berlarian sambil tertawa. Sementara lelaki itu, sang penjual sawo, terus berjalan menjemput rejeki yang entah bersembunyi dimana. “Sawo…sawo…sawo….” Dan masih saja tak seorang pun memanggilnya untuk berhenti sekedar tertarik pada pisang dagangannya.
Sementara detik-detik terus berguguran di sepanjang langkahnya yang berat, lelaki paruh baya penjual sawo mulai merasakan lapar yang melilit di perutnya. Ia berhenti sejenak di persimpangan jalan, tepat menghadap masjid yang sedang mengumandangkan adzan. Kemudian, lelaki penjual pisang menarik napas panjang, mengusap keringat, lantas meneruskan langkah ke muka masjid. Ashar telah tiba dan dia berniat mengistirahatkan tungkai kakinya yang lelah sambil menunaikan Ashar bagi Tuhannya.
Usai sholat, sang penjual pisang duduk di pelataran masjid menghadap keranjang dagangannya. Lapar masih melilit perutnya.
“Berapa sawonya?” suara berat seseorang memecahkan kristal lamunannya. Lelaki tambun dengan kantung plastik hitam di tangan kanannya.
“Eh, sekilo tujuh ribu, Pak.”
“Lima ribu, ya?” Lelaki penjual pisang berpikir sejenak. “Kalau enam ribu tidak apa-apa, Pak. Ambil saja. Kalau lima ribu belum bisa.” Dia tersenyum ramah.
“Ya sudah, saya beli dua kilo yang ini.” Lelaki tambun mengambil sawo pilihannya. Dengan cekatan, lelaki itu memasukkan dua kilo sawo ke dalam kantung plastik hitam. “Ini, Pak.” katanya setelah selesai.
“Ini uangnya, kembaliannya ambil saja.” kata lelaki tambun itu.
Penjual pisang berdebar. Sedetik napasnya tertahan.
“Wah, terima kasih banyak, pak. Semoga rezeki Bapak lancar dan dimudahkan…”
“Amin,” jawab lelaki tambun itu, pendek, sambil tersenyum lalu pergi.
Penjual sawo mengipas-kipaskan dua lembar uang sepuluh ribu rupiah di atas sawo dagangannya. Dia berharap uang itu bisa menular, semacam mantra, sihir pedagang yang bisa mengubah sawo jadi uang. Barang kali.
Tak pernah ada nestapa yang tak berkesudahan. Hidup selalu punya caranya untuk melubangi kebuntuan.
Lelaki penuh baya penjual pisang tiba di sebuah sudut perkampungan. Di sana beberapa pedagang sedang berkumpul; penjual mie ayam, gulali, dan buku-buku bekas. Dia segera bergabung seperti bertemu saudara sendiri. Mereka menyambut lelaki penjual sawo dengan penuh kehangatan dan keramaham.
“Sudah makan belum?” kata penjual mie ayam pada lelaki penjual sawo.
“Belum,” jawab lelaki penjual sawo singkat.
“Barter karo sawo sekilo, yo? Tak kasih semangkuk jumbo mie ayam spesial! Gimana?”
“Boleh…boleh…” kata lelaki penjual sawo antusias. Penjual mie ayam tersenyum mengacungkan jempolnya, mengangkat kedua alisnya.
07.39 selepas Isya’, lelaki penjual sawo sudah sampai di rumah kontrakan kecilnya. Anak-anak dan isterinya sudah menunggu untuk makan malam seadanya, tumis kangkung dan tempe goreng.
Istri dan anak mencium tangannya. Lelaki itu tersenyum.
“Bu, hari ini sawonya laku empat kilo. Yang satu kilo ditukar mie ayam dan satu kilo lagi ditukar komik. Ini uang untuk belanja besok.” Lelaki itu menyodorkan dua lembar ribuan dan selembar sepuluh ribu.
“Dan ini komik Naruto yang Fadhli pengen sejak dua bulan yang lalu bukan? Ini hadiah untuk Fadhli karena berhasil lulus SMP.” sambungnya sambil mengeluarkan dua komik itu.
“Makasih Pak. Tapi maaf, Fadhli belum bisa memberi Bapak hadiah atas usaha Bapak menjadi superhero untukku dan Ibu.” Dan Fadhli berlalu dengan tawa kecilnya.
Tiba-tiba. Bresss. Hujan turun dengan sangat derasnya. Menurunkan jutaan debit air tanpa jeda. Sontak, Fadhli bergegas keluar kamar untuk mengambil sepatu kumuh yang masih tertinggal di teras rumah. Namun langkahnya terhenti menemukan kedua orang tuanya bercakap di ruang tamu. Ia mendelik di samping meja kayu yang telah berusia belasan tahun itu.
“Bu, bagaimana dengan rencana kita untuk menyekolahkan Fadhli di tingkat SMA? Bapak sih pengen banget Fadhli bisa melanjutkan SMA nya di Pondok Pesantren Salafiyah Solo.”
“Tapi Pak, Ibu kurang setuju.”
“Kenapa Bu?”
“Pak, Pondok Pesantren itu mahal. Darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Hasil jual sawo saja hanya cukup untuk makan.”
“Kita berdo’a saja Bu, supaya dikasih rezeki yang cukup.” Sejak saat itu, keinginan dan tujuan Fadhli berubah. Kali ini, pikirannya benar-benar vacum.
Dengan tekat kuat, ia mendekati kedua orang tuanya. Ia menatap tajam sorot mata Bapak dan Ibunya.
“Ayah, Ibu, besok aku mau ke Solo. Aku mau mencari ilmu disana.” Ujar Fadhli dengan nada lirih. Kedua orang tuanya saling tatap seakan tak mengerti apa tujuan Fadhli kali ini. Mereka tampak terkejut.
“Kamu mau tinggal dimana? Sama siapa? Dan kamu mau sekolah dimana Dhli?” desak laki-laki rentang itu.
“Pak, tenanglah. Aku sudah cukup dewasa. Aku sudah 17 tahun. Aku akan baik-baik saja. ” Sahut Fadhli meyakinkan.
Malam kian larut. Hawa dingin semakin terasa. Bulan tidak terlihat. Hanya desah angin yang terdengar bergemuruh di kejauhan. Situasi ini membuat Fadhli harus memejamkan mata. Di bawah lampu pijar 10 watt yang terus menyala, Fadhli terhanyut dalam dekapan sang malam. Dan suasana kembali sunyi.
Menit berganti jam. Jam berganti hari. Itulah selayaknya waktu berjalan. Sembilan jam Fadhli mengarungi alam mimpi.
Pukul 05.30, kabut tebal masih menyelimuti pagi itu. Namun hal itu bukanlah penghalang bagi keluarga Fadhli untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Tapi hari ini tampak berbeda. Ayah yang biasanya bersiap dengan pisangnya, kali ini hanya duduk di teras rumah bersama Ibunya seusai menyiapkan sarapan. Dan Fadhli, ia masih tertahan di kamarnya bersama tas ransel hitam, 3 helai baju dan barang-barang lain yang akan ia bawa untuk menapakkan kakinya menuju Solo demi mencari sebongkang ilmu di Pondok Pesantren Salafiyah.
Selang 30 menit, Fadhli telah bersiap di depan pintu. Tersirat diwajahnya kekhawatiran khas seorang Ibu pada anaknya. Tiba-tiba Bapaknya menyodorkan uang Rp. 40.000 dan dua kantung plastic berisikan sawo padanya.
Di muka pintu, seolah ada yang tertahan. Fadhli berhenti sejenak sebelum pergi. Fadhli menengok ke arah ibunya, seolah-olah ingin meyakinkan padanya bahwa ia akan baik-baik saja. Ia tersenyum, lalu pergi.
Ia mulai menjejakkan kakinya di tanah yang basah. Dua hari sudah Fadhli berjalan dan menaiki bus kota. Nampaknya, ia harus bertanya dan bertanya kepada belasan orang yang ia temui di sepanjang perjalanan. Mencari dimana lokasi Pondok Pesantren Salafiah itu berada. Ia berjalan dengan penuh kepayahan, dan rasa letih itu sirna sesaat setelah menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Dia berwarna hijau muda dan terkesan sebagai gedung peninggalan Belanda.
Fadhli berjalan melewati pintu masuk yang masih terbuka lebar. Sepi. Ia terus melangkah memasuki pekarangan Pondok. Di sebelah kiri pintu masuk terdapat madding yang dipasangi lampu. Di sana terlihat beragam info yang berkaitan dengan Pondok itu.  Tak tampak seorang pun di halaman tersebut. Tapi lampunya terlihat menyala. Pasti ada orang didalam. Ia mendekati sebuah ruangan.
“Assalamu’alaikum! Permisi!” setengah berteriak Fadhli mengucapkan salam.
Sesaat kemudian pintu terbuka. Seorang laki-laki berusia kira-kira 30 tahun keluar dari dalam pintu. Berbagai pertanyaan mulai ia lontarkan. Mereka memperkenalkan diri. Sekarang Fadhli tau lelaki itu adalah Kyai sekaligus Pengurus Pondok ini.
Mulai detik itulah Fadhli tinggal di Pondok itu tanpa biaya yang mengikatnya dengan syarat ia harus mendapat nilai baik, tidak melanggar peraturan pondok, dan dalam waktu 3 tahun ia harus mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an. Dengan sigap ia menerima persyaratan itu. Mengingat keadaan dan keinginan Bapaknya yang sudah mulai renta.
Namun, tak semudah itu Fadhli mampu melewati berbagai rintangan yang berada di hadapannya. Tak jarang ia harus mencari rongsokan untuk ia jual di tukang loak. Tak jarang pula ia memakan makanan sisa dari temannya dan tak jarang pula ia harus melakukan hal yang menurut orang lain menjijikkan. Hal yang tak pernah Fadhli lupakan.
“Dan sekarang? Kamu telah menjadi orang hebat.” kata Ainul mendengar keluh kesah masa lalu Fadhli yang telah panjang lebar ia ceritakan. Ia hanya membalasnya dengan senyuman.
“Sudah jam 07.30. Acara syukuran untuk memperingati keberhasilanmu hampir dimulai. Yah, keberhasilanmu dalam menghafal Al-Qur’an.”
“Aku hanya ingin menempatkan Ibu dan Ayahku di singgasana surga. Melihatnya tersenyum dan memakai mahkota. Itulah cita-citaku selama ini.” mereka saling tatap. Tiba-tiba
“Fadhli….” Suara berat seorang laki-laki dan perempuan paruh baya di belakangnya. Sontak, mereka menengok ke asal suara itu.
“Bapak, Ibu…” ujar Fadhli segera memeluk Ibu dan Bapaknya. Air bening mulai beranak sungai di pipi mereka. Perasaan haru menyelimuti loteng pagi itu.
“Ibu, Bapak, Fadhli baik-baik saja. Dan ini hadiah untuk Bapak dan Ibu yang telah aku janjikan tiga tahun yang lalu. Meskipun Bapak dan Ibu tak bisa menyentuh hadiah ini, tapi di akhirat nanti, aku ingin melihat Bapak dan Ibu tinggal di Istana, memakai mahkota dan tersenyum untukku.” terang Fadhli lagi.
“Terimakasih Nak. Kau telah membuat Bapak dan Ibu bangga padamu. Kau hebat.”
Mereka saling melempar senyum dan mulai meninggalkan tempat itu. Namun sebelumnya Fadhli terhenti dan menatap tajam wajah Ainul yang masih tertahan di tempat semula.
 “Ainul ingatlah. Kadang-kadang seseorang harus memulai hidup dengan cara yang kurang membahagiakan. Tetapi tugas kita adalah berjuang dan berusaha, menciptakan kebahagiaan kita sendiri hingga kita mendapatkannya. Jika kau terlahir dalam kemiskinan dan penderitaan, itu bukan salahmu. Tetapi jika kau mati dalam kemiskinan dan penderitaan, itu salahmu. Karena waktu tak pernah menyediakan kesia-siaan bagi mereka yang brjuang dan bekerja keras.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar