Hari ini,hujan turun rintik-rintik. Namun, kaki ini
tak urung menghentikan langkahku dan mengurungkan niatku untuk menyusuri
belasan toko demi mencari sesuatu yang aku impi-impikan. Detik berganti detik,menit
berganti menit.Kaki ini seakan
mengajakku untuk memasuki sesuah toko nan mewah dan di dalamnya terpajang
buku-buku diatas rak dengan amat
rapinya.Aku teringat akan perkataan kiki. Seseorang yang selama ini
berlabuh di hatiku.
“Suatu saat aku ingin berjuang
di jalan Tuhan dan sebelum aku membahagiakan perempuan lain,aku ingin
membahagiakan perempuan yang telah melahirkanku.Ibu ”tertuju pandanganku pada
sebuah buku bersampul hitam kehijauan dan masih terbungkus plastik tipis dengan
rapinya. “Menempatkan Ayah Bunda di singgasana”. Itulah judul buku yang
membuatku tertarik untuk melepas sebagian uang yang selama ini enggan ku
keluarkan dari kantong. Satu barang telah ku dapat,dan uangku
tinggal 20.000.
“Barang
apa yang bisa kudapat dengan uang sedikit ini
?.Apa bisa untuk beli barang yang bagus tapi murah ? Itupun juga belum
tentu Kiki menyukainya”Ucapku yang terus memilah dan memilih.Kaki yang
seakan tak
kuasa lagi untuk menompangi tubuh yang lemas ini, dan sapatu yang tak
kuat lagi
untuk kuseret, seakan mengajakku untuk terus berjalan.Menyusuri belasan
toko
yang terpampang di pinggir jalan dan seakan menantiku untuk masuk di
dalamnya.
Namun,hujan tak urung menyumbat airnya.Layaknya langit
telah menyiapkan ratusan debit air untuk ia jatuhkan.Lelah aku mencari.Hingga
aku menemukan barang itu.Boneka mungil yang tampak seperti bintang
buas.Ya,benar. Boneka tazmania.Mungkin boneka ini cocok untuk semua
orang.Habislah uangku.Tapi tak apa,karena semua hal itu butuh pengorbanan dan
usaha.Buku dan boneka, ini pertanda bahwa perasaan lega telah berlabuh di
hatiku.Senyum lirih menghiasi wajah polosku di sepanjang perjalanan menuju
asrama.Tempat dimana selama ini aku tinggal, hidup, belajar dan berbagi pengalaman.
Beruntunglah bahwa hari ini adalah hari libur pertama
setelah semester ganjil. Lengkap sudah perasaan bahagiaku.Hati ini seakan
besorak-sorak gembira,maklum aku dan murid kelas x sma lainnya adalah penghuni
baru di asrama itu.Andita dan Ima,teman satu kelasku dan mempunyai tujuan yang
sama denganku.
“Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku
menyayangimu....” terdengar suara MP3 dari HPku yang mengiringi perjalanan kami
untuk pulang.
“Pak, mau ke terminal berapa ?” Tanyaku kepada tukang
becak yang sedang nongkrong di Sarangan.
“12,000 mbak ! ” Sahutnya
“Mahal banget pak ? biasanya juga 10,000 !”Kataku
seakan menawar.Tak ingin menghabiskan waktu untuk tawar menawar,Akhirnya
laki-laki paruh baya itu dengan segera mengayunkan kakinya untuk mengantarkan
kami ke terminal Tertonadi yang jaraknya cukup jauh dari asrama tempat kami
tinggal.
Hujan kembali turun deras sekali.Diiringi dengan
cahaya kilat dan suara petir. Layaknya rudal yang sedang menghantam bumi dengan
pelurunya.Hal ini membuat Andita dan Ima terselimuti oleh perasaan
takut.Namun,laki-laki itu tak urung menghentikan becak kesayangannya. Beberapa
menit telah belalu, sampailah kami di terminal.Terlihat laki-laki itu
memarkirkan becaknya dibawah bangunan yang kosong sambil mengantongi uang yang
telah basah.Tidak selesai sampai situ.Keraguan yang masih terngiang-ngiang
dibenak kami seakan menyuruh kami untuk bertanya .Seperti kata pepatah,malu
bertanya, sesat dijalan.Itulah kami.
“Maaf pak,ini bus mau ke Surabaya mana ya ?”Tanya
salah seorang teman kami, Ima.
“Di situ dek !” Sahutnya dengan nada lembut sambil
menunjuk salah satu pintu di rungan itu.
“Yang Ngawi Surabaya Palur Sragen !” Teriak kernet
untuk mencari penumpang.Pilihan kami jatuh pada bus Eka,bus yang akan kami
tumpangi untuk sampai ke tempat tujuan.Sragen,Mantingan dan Ngawi, itulah
tujuan kami.Tampak ratusan pohon,rumah,sawah dan gedung-gedung pertokoan yang
terlihat dari balik kaca.
“Cang kacang rebus,arem-arem, aqua aqua dingin...”
Terdengar suara pedagang asongan yang ikut meramaikan bus kota. Segera aku
membuka tas ransel. Kusiapkan boneka,buku,kertas kado,plaster dan
gunting.Kubungkus dan kubalut plaster dengan rapinya,meskipun hasilnya tak
sesuai dengan yang diharapkan.Acak-acakan,tepat sekali.
“Ita...Ita,andai aja aku yang kamu kado,pasti kamu
langsung aku tembak !”Gumam Ima seakan memuji.Sementara Andita masih serius
dengan lantunan lagu yang ia mainkan.Waktu terus berputar,sampailah Andita di
tempat yang ia tuju, terminal Sragen. Sekarang tinggal menunggu
giliranku,walaupun rasanya ada yang kurang tanpa Andita.
“Mantingan Mantingan !” Teriak kernet menadakan bus
telah sampai di tempat yang saya tuju.Perasaan lega kurasakan saat itu.
“Kring...kring...” suara HP di kantong bajuku.
“Assalamualakum. Ini siapa ya ?” Tanyaku sambil
mengangkat telfon tanpa nama.
“Waalaikumsalam.Saya bapaknya Ima,Imanya nanti turun
dimana ?”
“Maaf pak,ini saya temannya Ima,dan saya sudah turun
di Mantingan pak.Trus Imanya sudah jalan tadi.” Jawabku sambil mengingat bahwa sebelumnya Ima meminjam HPku
untuk mengirim pesan kepada bapaknya.
“Ow, ya sudah,makasih !”lanjutnya sambil mematikan
telepon.Tak segera aku memasukkan HP ke kantongku, karena aku ingin mengirim
pesan ke Kiki yang sedang berlibur kekampung halamannya yang tak jauh dari
rumahku.Maklumlah laki-laki itu juga melanjutkan pendidikan di asrama Jombang.
Perasaan bahagia sedang menghiasi hatiku.Tak sabar aku untuk segera bertemu
dengan teman dekatku.
“Kiki,kamu bisa gak ke Mantingan sebentar ? tak ada 5
menit ko” Kirim. Aku tertegun dan terdiam di bawah pohon nan rindang.Mataku
terus menatap layar HP, berharap Kiki membalas smsku. Kring....kring....Suara
HP untuk kedua kalinya.
“Wah Kiki !” Kataku dengan perasaan bahagia.Baca.
“Mau ngapain disitu ? gak aneh-anehkan ?” Balasnya
“Enggak,jadi kamu bisa gak kesini ?” kirim
“Mau ngapain dulu ? aku belum mandi nih !”
“Kamu gak ingat ,ini tanggal 27 desember.Hari ini
ulang tahun kamu ! aku Cuma pengen ngasih kado buat kamu,cepetan bisa enggak ?
kalau enggak aku mau pulang !” balasku dengan perasaan emosi dan linangan air
mata yang mulai menetes di pipi.
“Iya, aku kesitu.Tapi aku mau mandi dulu.sebentar aja
ko,gak papa kan ?” Tak kuasa lagi aku membalas pesan itu. Mega sudah menanti
dan Hari mulai gelap.Namun,hujan masih berdebaman seakan menemaniku dalam
kesedihan. Aku belum beranjak pergi, terus menanti dan menanti.Tak ingin aku
kesepian, kumainkan MP3 di HPku.
“Sore ini aku berdiri dan menanti kekasih hatiku yang
sangat aku cintai. Tlah kubawakan sepucuk bunga mawar yang indah, persembahan
rasa cintaku pada dirinya. Waktupun berjalan,dan dia tak kunjung datang ,risau
perasaan hatiku, apakah yang telah terjadi.Dan aku mulai bertanya dalam hatiku
sendiri, sudahkah dia tidak mencintai aku. Atau mungkin hanya waktu yang tak
izinkan tuk jumpa, sungguh aku ingin tau jawabanya.....” suara Lirik lagu yang
mengisahkan tetang perasaan hatiku saat ini. Keheningan ini seakan terpecah
oleh suara HP yang tiba-tiba berdering.Pesan baru, Kiki.
“Ita, maaf ya, aku gak bisa datang. Soalnya,adikku mau
ikut,jadi gak enak aku.”
“Aku kecewa sama kamu !” Balasku seakan ingin
memukulnya. “Aku benci kamu.benci.Kamu jahat ki,kamu dah gak sayang sama
aku.Aku benci kamu” Ucapku dalam hati, sambil meminta bapak untuk menjemputku.
Hujan belum juga reda.Serentak aku mematikan HP.Kulempar
HP di ranjang dan ku kunci kamar dengan penuh perasaan emosi.Akupun tak tahu,
mengapa hanya karena cinta aku menangis ?. Kututup wajahku dengan bantal yang
penuh debu, hingga aku tertidur lelap.Hujan sedikit lebih jinak.Ia seakan
meneteskan air mata sepertiku.
00.15 WIB.Aku terbangun dari malam yang haru. Ku sahut
HP yang selalu ada disampingku. Emosi yang mulai mereda membuatku beniat untuk
menngaktifkan HP.Pesan masuk,Kiki
“Maafin aku,ya udah, kamu boleh kecewa,karena aku
emang salah.Kamu mau gak besok menemuiku di candi ?”
“Lupain aja.Kamu aku maafin walaupun aku masih
kecewa.” Balasku yang masih remang-remang.
“Makasih ya.jam 9. Nice dream ”. Kulanjutkan tidurku
dengan perasaan lega.
Pagi telah menyapa. “Tok...tok...Ita,bangun,dah pagi
nih !”Teriak kakak membangunkanku.Dengan perlahan dan pikiran yang masih
remang-remang aku berjalan menuju pintu kamar.Tak ku sadari sang fajar telah
menyongsong sinarnya setinggi mungkin.Begitu terang. Tubuhku terduduk di kursi
ruang tamu, badanku masih lemas, wajahku pucat, aku hanya duduk manis di atas
kursi.Diam.
“Huff..dah jam 8.30”gumamku sambil menatap jam dinding yang
bergambar burung merpati putih itu. Dengan segera aku menuju kamar mandi dan
sarapan dengan lauk seadanya.Maklumlah aku adalah satu-satunya cewe di rumah
ini. “Kring....kring....” suara HP berdering. Pesan baru, Kiki.
“Ita aku ada di candi.Bisakah kamu segera kesini
?”replay “Iya sebentar.Ini juga masih di jalan”.Dengan sepeda motor metik
berskorlet merah dan hitam, aku segera menyusul Kiki. Telihat laki-laki
berkulit langsap itu duduk termenung menatap ratusan mobil yang lalu lalang di
sepajang jalan perbatasan antara jawa timur dengan jawa tengah.Aku berdiri
menatapnya seakan tak percaya akan hal ini, bagaikan menerima kado terindah
dalam hidupku. Kami duduk melepas kerinduan yang harus kami perangi selama 3
bulan ini.
“Nih, kado buat kamu.Met ultah ya !” kataku tersipu
malu.Kita sama-sama terdiam.Agak lama, seperti tengah sibuk memilah kata-kata
yang ingin kita ucapkan.Tapi bress, tiba-tiba hujan kembali mendendam.
“Hari ini hujan deras sekali...” Celetuk kita hampir
bersamaan.Kita saling tatap sebelum akhirnya tertawa panjang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar