Minggu, 09 Juni 2013

Hari ini, Hujan Deras Sekali

                                                HARI INI, HUJAN DERAS SEKALI...

             Hari ini,hujan turun rintik-rintik. Namun, kaki ini tak urung menghentikan langkahku dan mengurungkan niatku untuk menyusuri belasan toko demi mencari sesuatu yang aku impi-impikan. Detik berganti detik,menit berganti menit.Kaki ini seakan mengajakku untuk memasuki sesuah toko nan mewah dan di dalamnya terpajang buku-buku diatas rak dengan amat  rapinya.Aku teringat akan perkataan kiki. Seseorang yang selama ini berlabuh di hatiku.
                “Suatu saat aku ingin berjuang di jalan Tuhan dan sebelum aku membahagiakan perempuan lain,aku ingin membahagiakan perempuan yang telah melahirkanku.Ibu ”tertuju pandanganku pada sebuah buku bersampul hitam kehijauan dan masih terbungkus plastik tipis dengan rapinya. “Menempatkan Ayah Bunda di singgasana”. Itulah judul buku yang membuatku tertarik untuk melepas sebagian uang yang selama ini enggan ku keluarkan dari kantong. Satu barang telah ku dapat,dan uangku tinggal 20.000.
“Barang apa yang bisa kudapat dengan uang sedikit ini ?.Apa bisa untuk beli barang yang bagus tapi murah ? Itupun juga belum tentu Kiki menyukainya”Ucapku yang terus memilah dan memilih.Kaki yang seakan tak kuasa lagi untuk menompangi tubuh yang lemas ini, dan sapatu yang tak kuat lagi untuk kuseret, seakan mengajakku untuk terus berjalan.Menyusuri belasan toko yang terpampang di pinggir jalan dan seakan menantiku untuk masuk di dalamnya.
Namun,hujan tak urung menyumbat airnya.Layaknya langit telah menyiapkan ratusan debit air untuk ia jatuhkan.Lelah aku mencari.Hingga aku menemukan barang itu.Boneka mungil yang tampak seperti bintang buas.Ya,benar. Boneka tazmania.Mungkin boneka ini cocok untuk semua orang.Habislah uangku.Tapi tak apa,karena semua hal itu butuh pengorbanan dan usaha.Buku dan boneka, ini pertanda bahwa perasaan lega telah berlabuh di hatiku.Senyum lirih menghiasi wajah polosku di sepanjang perjalanan menuju asrama.Tempat dimana selama ini aku tinggal, hidup, belajar dan berbagi pengalaman.
Beruntunglah bahwa hari ini adalah hari libur pertama setelah semester ganjil. Lengkap sudah perasaan bahagiaku.Hati ini seakan besorak-sorak gembira,maklum aku dan murid kelas x sma lainnya adalah penghuni baru di asrama itu.Andita dan Ima,teman satu kelasku dan mempunyai tujuan yang sama denganku.
“Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku menyayangimu....” terdengar suara MP3 dari HPku yang mengiringi perjalanan kami untuk pulang.
“Pak, mau ke terminal berapa ?” Tanyaku kepada tukang becak yang sedang nongkrong di Sarangan.
“12,000 mbak ! ” Sahutnya
“Mahal banget pak ? biasanya juga 10,000 !”Kataku seakan menawar.Tak ingin menghabiskan waktu untuk tawar menawar,Akhirnya laki-laki paruh baya itu dengan segera mengayunkan kakinya untuk mengantarkan kami ke terminal Tertonadi yang jaraknya cukup jauh dari asrama tempat kami tinggal.
Hujan kembali turun deras sekali.Diiringi dengan cahaya kilat dan suara petir. Layaknya rudal yang sedang menghantam bumi dengan pelurunya.Hal ini membuat Andita dan Ima terselimuti oleh perasaan takut.Namun,laki-laki itu tak urung menghentikan becak kesayangannya. Beberapa menit telah belalu, sampailah kami di terminal.Terlihat laki-laki itu memarkirkan becaknya dibawah bangunan yang kosong sambil mengantongi uang yang telah basah.Tidak selesai sampai situ.Keraguan yang masih terngiang-ngiang dibenak kami seakan menyuruh kami untuk bertanya .Seperti kata pepatah,malu bertanya, sesat dijalan.Itulah kami.
“Maaf pak,ini bus mau ke Surabaya mana ya ?”Tanya salah seorang teman kami, Ima.
“Di situ dek !” Sahutnya dengan nada lembut sambil menunjuk salah satu pintu di rungan itu.
“Yang Ngawi Surabaya Palur Sragen !” Teriak kernet untuk mencari penumpang.Pilihan kami jatuh pada bus Eka,bus yang akan kami tumpangi untuk sampai ke tempat tujuan.Sragen,Mantingan dan Ngawi, itulah tujuan kami.Tampak ratusan pohon,rumah,sawah dan gedung-gedung pertokoan yang terlihat dari balik kaca.
“Cang kacang rebus,arem-arem, aqua aqua dingin...” Terdengar suara pedagang asongan yang ikut meramaikan bus kota. Segera aku membuka tas ransel. Kusiapkan boneka,buku,kertas kado,plaster dan gunting.Kubungkus dan kubalut plaster dengan rapinya,meskipun hasilnya tak sesuai dengan yang diharapkan.Acak-acakan,tepat sekali.
“Ita...Ita,andai aja aku yang kamu kado,pasti kamu langsung aku tembak !”Gumam Ima seakan memuji.Sementara Andita masih serius dengan lantunan lagu yang ia mainkan.Waktu terus berputar,sampailah Andita di tempat yang ia tuju, terminal Sragen. Sekarang tinggal menunggu giliranku,walaupun rasanya ada yang kurang tanpa Andita.
“Mantingan Mantingan !” Teriak kernet menadakan bus telah sampai di tempat yang saya tuju.Perasaan lega kurasakan saat itu. “Kring...kring...” suara HP di kantong bajuku.
“Assalamualakum. Ini siapa ya ?” Tanyaku sambil mengangkat telfon tanpa nama.
“Waalaikumsalam.Saya bapaknya Ima,Imanya nanti turun dimana ?”   
“Maaf pak,ini saya temannya Ima,dan saya sudah turun di Mantingan pak.Trus Imanya sudah jalan tadi.” Jawabku sambil  mengingat bahwa sebelumnya Ima meminjam HPku untuk mengirim pesan kepada bapaknya.
“Ow, ya sudah,makasih !”lanjutnya sambil mematikan telepon.Tak segera aku memasukkan HP ke kantongku, karena aku ingin mengirim pesan ke Kiki yang sedang berlibur kekampung halamannya yang tak jauh dari rumahku.Maklumlah laki-laki itu juga melanjutkan pendidikan di asrama Jombang. Perasaan bahagia sedang menghiasi hatiku.Tak sabar aku untuk segera bertemu dengan teman dekatku.
“Kiki,kamu bisa gak ke Mantingan sebentar ? tak ada 5 menit ko” Kirim. Aku tertegun dan terdiam di bawah pohon nan rindang.Mataku terus menatap layar HP, berharap Kiki membalas smsku. Kring....kring....Suara HP untuk kedua kalinya.
“Wah Kiki !” Kataku dengan perasaan bahagia.Baca.
“Mau ngapain disitu ? gak aneh-anehkan ?” Balasnya
“Enggak,jadi kamu bisa gak kesini ?” kirim
“Mau ngapain dulu ? aku belum mandi nih !”
“Kamu gak ingat ,ini tanggal 27 desember.Hari ini ulang tahun kamu ! aku Cuma pengen ngasih kado buat kamu,cepetan bisa enggak ? kalau enggak aku mau pulang !” balasku dengan perasaan emosi dan linangan air mata yang mulai menetes di pipi.
“Iya, aku kesitu.Tapi aku mau mandi dulu.sebentar aja ko,gak papa kan ?” Tak kuasa lagi aku membalas pesan itu. Mega sudah menanti dan Hari mulai gelap.Namun,hujan masih berdebaman seakan menemaniku dalam kesedihan. Aku belum beranjak pergi, terus menanti dan menanti.Tak ingin aku kesepian, kumainkan MP3 di HPku.
“Sore ini aku berdiri dan menanti kekasih hatiku yang sangat aku cintai. Tlah kubawakan sepucuk bunga mawar yang indah, persembahan rasa cintaku pada dirinya. Waktupun berjalan,dan dia tak kunjung datang ,risau perasaan hatiku, apakah yang telah terjadi.Dan aku mulai bertanya dalam hatiku sendiri, sudahkah dia tidak mencintai aku. Atau mungkin hanya waktu yang tak izinkan tuk jumpa, sungguh aku ingin tau jawabanya.....” suara Lirik lagu yang mengisahkan tetang perasaan hatiku saat ini. Keheningan ini seakan terpecah oleh suara HP yang tiba-tiba berdering.Pesan baru, Kiki.
“Ita, maaf ya, aku gak bisa datang. Soalnya,adikku mau ikut,jadi gak enak aku.”
“Aku kecewa sama kamu !” Balasku seakan ingin memukulnya. “Aku benci kamu.benci.Kamu jahat ki,kamu dah gak sayang sama aku.Aku benci kamu” Ucapku dalam hati, sambil meminta bapak untuk menjemputku.
Hujan belum juga reda.Serentak aku mematikan HP.Kulempar HP di ranjang dan ku kunci kamar dengan penuh perasaan emosi.Akupun tak tahu, mengapa hanya karena cinta aku menangis ?. Kututup wajahku dengan bantal yang penuh debu, hingga aku tertidur lelap.Hujan sedikit lebih jinak.Ia seakan meneteskan air mata sepertiku.
00.15 WIB.Aku terbangun dari malam yang haru. Ku sahut HP yang selalu ada disampingku. Emosi yang mulai mereda membuatku beniat untuk menngaktifkan HP.Pesan masuk,Kiki
“Maafin aku,ya udah, kamu boleh kecewa,karena aku emang salah.Kamu mau gak besok menemuiku di candi ?”
“Lupain aja.Kamu aku maafin walaupun aku masih kecewa.” Balasku yang masih remang-remang.
“Makasih ya.jam 9. Nice dream ”. Kulanjutkan tidurku dengan perasaan lega.
Pagi telah menyapa. “Tok...tok...Ita,bangun,dah pagi nih !”Teriak kakak membangunkanku.Dengan perlahan dan pikiran yang masih remang-remang aku berjalan menuju pintu kamar.Tak ku sadari sang fajar telah menyongsong sinarnya setinggi mungkin.Begitu terang. Tubuhku terduduk di kursi ruang tamu, badanku masih lemas, wajahku pucat, aku hanya duduk manis di atas kursi.Diam.
“Huff..dah jam 8.30”gumamku sambil menatap jam dinding yang bergambar burung merpati putih itu. Dengan segera aku menuju kamar mandi dan sarapan dengan lauk seadanya.Maklumlah aku adalah satu-satunya cewe di rumah ini. “Kring....kring....” suara HP berdering. Pesan baru, Kiki.
“Ita aku ada di candi.Bisakah kamu segera kesini ?”replay “Iya sebentar.Ini juga masih di jalan”.Dengan sepeda motor metik berskorlet merah dan hitam, aku segera menyusul Kiki. Telihat laki-laki berkulit langsap itu duduk termenung menatap ratusan mobil yang lalu lalang di sepajang jalan perbatasan antara jawa timur dengan jawa tengah.Aku berdiri menatapnya seakan tak percaya akan hal ini, bagaikan menerima kado terindah dalam hidupku. Kami duduk melepas kerinduan yang harus kami perangi selama 3 bulan ini.
“Nih, kado buat kamu.Met ultah ya !” kataku tersipu malu.Kita sama-sama terdiam.Agak lama, seperti tengah sibuk memilah kata-kata yang ingin kita ucapkan.Tapi bress, tiba-tiba hujan kembali mendendam.
“Hari ini hujan deras sekali...” Celetuk kita hampir bersamaan.Kita saling tatap sebelum akhirnya tertawa panjang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar